Cerpen  

Di Bawah Atap Masjid, Menemukan Rumah di Hati Orang Lain

Idam berbincang bersama Haji Lukman di sebuah warung kopi, menjadi awal pertemuan yang mengubah perjalanan hidupnya dari keterbatasan menuju harapan. Foto: Madi/ AI

Haji Lukman tidak langsung memberinya pekerjaan berat.

Ia memperkenalkan Idam kepada orang-orang di kantornya.

“Ini Idam. Mulai hari ini dia bantu-bantu di sini.”

Tidak ada pertanyaan tentang masa lalu.

Tidak ada pemeriksaan panjang.

Haji Lukman hanya memberi kesempatan.

Bahkan, sesuatu yang paling membuat Idam terkejut terjadi pada hari pertama.

“Dam, nanti tolong belikan beberapa perlengkapan kantor.”

“Iya, Pak.”

Haji Lukman menyerahkan kunci sepeda motor miliknya.

“Ini motornya. Pakai saja.”

Idam memandang kunci itu.

Ia hampir tidak percaya.

“Motor ini saya bawa, Pak?”

“Iya.”

“Kalau saya bawa lari bagaimana, Pak?”

Haji Lukman tertawa kecil.

Baca Juga :  Viral untuk Apa?

“Kalau kamu memang mau lari, dari tadi kamu sudah lari. Saya percaya kamu.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi bagi Idam, kalimat itu seperti seseorang sedang mengembalikan harga dirinya.

Selama berbulan-bulan, ia merasa dirinya tidak dipercaya siapa pun.

Hari itu, untuk pertama kalinya, ada orang yang mempercayainya meski baru mengenalnya.

Idam menerima kunci tersebut dengan tangan sedikit gemetar.

“Insyaallah, Pak. Saya tidak akan mengecewakan.”


Hari berganti minggu.

Minggu berganti bulan.

Idam bekerja dengan sungguh-sungguh.

Ia belajar banyak hal. Mengurus perlengkapan kantor, mengantar dokumen, membantu pekerjaan di kantor, dan berbagai tugas lainnya.

Baca Juga :  Cerpen: Jejak di Pasir

Ia tidak pernah malu mengerjakan pekerjaan kecil.

Baginya, pekerjaan adalah jalan untuk mengubah hidup.

Haji Lukman pun semakin percaya kepadanya.

Hampir dua tahun Idam bersama Haji Lukman.

Perlahan, hidupnya berubah.

Ia tidak lagi tidur berpindah-pindah dari masjid ke masjid.

Ia mulai memiliki penghasilan.

Ia mulai bisa membeli pakaian sendiri.

Ia mulai bisa makan tanpa harus berutang.

Yang paling penting, ia mulai memiliki sesuatu yang hampir hilang dari hidupnya selama bertahun-tahun:

harapan.

Namun, perjalanan hidup tidak selalu berjalan lurus.

Ketika seseorang mulai bangkit, selalu ada saja suara yang mencoba menjatuhkannya.