Cerpen  

Di Bawah Atap Masjid, Menemukan Rumah di Hati Orang Lain

Idam berbincang bersama Haji Lukman di sebuah warung kopi, menjadi awal pertemuan yang mengubah perjalanan hidupnya dari keterbatasan menuju harapan. Foto: Madi/ AI

Sejak memiliki rumah, Idam tidak berubah.

Ia tetap bekerja.

Tetap sederhana.

Tetap menyapa orang-orang yang ditemuinya.

Dan setiap kali melewati sebuah masjid, langkahnya sering berhenti.

Bukan lagi untuk mencari tempat tidur.

Melainkan untuk mengingat masa lalu.

Suatu malam, Idam melihat seorang lelaki duduk sendirian di teras masjid.

Pakaiannya lusuh.

Tas kecil tergeletak di sampingnya.

Wajahnya terlihat bingung.

Idam mendekat.

“Sudah makan?”

Lelaki itu menggeleng.

Idam tersenyum.

“Yuk, makan.”

Malam itu, Idam membelikan makanan untuk lelaki tersebut.

Setelah selesai makan, lelaki itu bertanya,

“Mas kerja di mana?”

Idam tersenyum.

“Di sebuah kantor.”

Baca Juga :  Rahasia Pak Wira: Panen Sawit Melimpah di Lahan Sempit Berkat Tumpang Sari

“Rumah di mana?”

Idam menunjuk ke arah jalan.

“Di sana.”

Lelaki itu tersenyum.

“Berarti Mas beruntung.”

Idam mengangguk.

“Saya memang beruntung.”

Namun dalam hati, Idam tahu bahwa keberuntungan itu bukan datang begitu saja.

Ada orang-orang yang pernah memberinya kesempatan.

Ada tangan-tangan yang pernah mengulurkan bantuan.

Ada hati yang memilih percaya ketika orang lain memilih curiga.

Dan ada satu pelajaran yang tidak pernah ia lupakan:

Kadang-kadang, Tuhan tidak langsung mengubah hidup seseorang. Tuhan terlebih dahulu mempertemukannya dengan orang baik yang menjadi jalan menuju perubahan itu.

Idam kemudian berdiri.

Baca Juga :  Ketika Otot Berkuasa, Otak Terlupakan

Ia menatap lelaki di sampingnya.

“Kalau malam ini belum punya tempat tidur, tidur saja di masjid ini. Besok kita pikirkan bersama.”

Lelaki itu menatap Idam dengan mata berkaca-kaca.

“Makasih, Mas.”

Idam hanya tersenyum.

Sebab ia tahu persis bagaimana rasanya menerima kalimat itu.

Dulu, ia adalah orang yang ditolong.

Kini, ia ingin menjadi orang yang menolong.

Dan mungkin, begitulah hidup bekerja.

Kebaikan yang pernah ditanam seseorang, suatu hari akan tumbuh di hati orang lain.

Lalu tumbuh lagi.

Dan terus berjalan.

Dari satu manusia kepada manusia lainnya.

Tanpa pernah benar-benar berhenti.