Di sebuah kota bernama Bandar, hiduplah seorang lelaki bernama Tego.
Tego bukan orang miskin yang tidak punya kemampuan bekerja. Tubuhnya masih kuat, tenaganya masih ada, dan usianya belum terlalu tua. Namun ia memilih jalan hidup yang berbeda.
Ia tidak bekerja.
Setiap hari, pekerjaannya hanya satu: berjudi.
Untuk mendapatkan modal berjudi, Tego bersama tiga orang kawannya berkeliling pasar. Mereka datang berempat karena Tego tidak berani berjalan sendirian. Mereka takut kalau pergi seorang diri, bisa saja dikarungi atau dipukuli orang yang merasa terganggu.
Mereka mendatangi para pedagang.
“Bang, bagi sedikitlah.”
“Bu, pinjam dulu uangnya.”
“Bang, lima puluh ribu saja.”
Begitulah cara Tego mencari modal.
Bukan bekerja.
Bukan berdagang.
Melainkan meminta-minta kepada orang yang sejak pagi sudah berkeringat mencari nafkah.
Setelah uang terkumpul, Tego pergi berjudi.
Kalau kalah, ia kembali mencari uang.
Kalau menang, ia lupa diri.
Ia duduk di kafe, mentraktir teman-temannya, membeli makanan dan minuman sesuka hati. Malamnya, ia menghabiskan uang dengan kesenangan sesaat dan perempuan malam.
Hampir setiap hari begitu.
Istrinya berada jauh di Pulau Jawa.
Tego tahu istrinya menunggu.
Tetapi ia selalu punya alasan untuk tidak pulang.
“Nanti kalau uangku sudah banyak.”
“Nanti kalau sudah menang besar.”
“Nanti aku berubah.”
Selalu nanti.
Sampai suatu hari, sebuah kalimat sederhana dari seorang anak kecil membuat hidupnya tidak pernah benar-benar sama lagi.
Pagi itu, Tego kembali ke pasar bersama ketiga kawannya.
Ia menghampiri seorang pedagang.
“Bang, kasihlah sedikit. Lagi perlu modal.”
Pedagang itu belum sempat menjawab ketika seorang anak kecil yang berdiri di samping ayahnya memandang Tego.
Anak itu mungkin baru berusia tujuh atau delapan tahun.
Dengan polos ia berkata,
“Om…”
Tego menoleh.
“Om gagah kok nggak malu kerjanya minta-minta sama orang jualan?”
Tego terdiam.
Pedagang itu ikut diam.
Teman-teman Tego yang berada tidak jauh dari sana juga mendengar.
Tidak ada yang tertawa.
Tidak ada yang berkata apa-apa.
Tego menatap anak itu.
Aneh.
Ia sudah bertahun-tahun mendengar orang mencibir.
Sudah sering dianggap pemalas.
Sudah sering diusir.
Tetapi baru kali ini ia merasa benar-benar malu.
Bukan karena yang berbicara seorang dewasa.
Justru karena yang berbicara adalah seorang anak kecil.
Anak yang belum mengerti kerasnya kehidupan, tetapi sudah mengerti bahwa meminta uang kepada orang yang sedang bekerja bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan.
Tego menunduk.
Tangannya yang tadi terulur perlahan turun.
Ia tidak jadi meminta uang.
Ia pergi.
Langkahnya cepat.
Kemudian semakin cepat.
Seolah-olah ia sedang melarikan diri dari suara kecil yang terus terngiang di kepalanya.
“Om gagah kok nggak malu?”









