Cerpen  

Besok Yang Tak Pernah Datang

Kisah tragis Tego, seorang penjudi yang hidupnya berubah setelah teguran seorang anak kecil, hingga berakhir dalam kecelakaan dan penyesalan panjang. Foto: Madi/ AI

Malam itu Tego tidak pergi ke kafe.

Ia duduk sendirian di kamar.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memikirkan hidupnya.

Ia memandangi kedua tangannya.

Tangan yang sebenarnya bisa bekerja.

Tangan yang bisa mengangkat barang.

Tangan yang bisa mencangkul.

Tangan yang bisa mencari rezeki.

Namun selama ini tangan itu lebih sering memegang uang hasil meminta-minta dan uang taruhan.

Ia mengambil telepon.

Nama istrinya muncul di layar.

Jarinya hampir menekan tombol panggil.

Namun ia berhenti.

“Apa yang harus kukatakan?”

Ia tidak tahu.

Sudah terlalu banyak kebohongan.

Baca Juga :  Pastikan Penanganan Korban Berjalan Baik, Jasa Raharja, Ditjen Hubdat dan Korlantas Polri Tinjau Korban Kecelakaan Bus ALS di Muratara

Terlalu banyak janji.

Terlalu banyak “nanti”.

Akhirnya telepon itu ia letakkan kembali.

“Besok aku telepon.”

Lagi-lagi besok.


Keesokan harinya Tego kembali ke pasar.

Ia masih bersama ketiga kawannya.

Ia masih meminta uang.

Masih mencari modal judi.

Masih melakukan kebiasaan lamanya.

Namun sejak hari itu, sesuatu berubah di dalam dirinya.

Setiap kali ia mendekati pedagang, ia teringat anak kecil tersebut.

Setiap kali ia melihat seorang pedagang mengangkat karung, mengeluarkan keringat, atau menghitung hasil jualannya, hati Tego terasa tidak nyaman.

Ia mulai melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah ia lihat.

Baca Juga :  Jurnalis Tanpa Kata

Para pedagang itu bukan sekadar orang yang bisa dimintai uang.

Mereka adalah orang-orang yang bekerja keras untuk keluarga.

Ada yang berjualan sejak subuh.

Ada yang membawa dagangan sambil menggendong anak.

Ada yang pulang ketika hari sudah gelap.

Sedangkan dirinya?

Ia datang ketika orang lain bekerja, meminta uang kepada mereka, lalu mempertaruhkannya di meja judi.

Tego mulai merasa hidupnya kosong.

Tetapi ia belum mampu berhenti.

Judi sudah menjadi kebiasaan.

Kebiasaan yang berubah menjadi candu.