Malam baru saja turun ketika hujan rintik membasahi jalan-jalan kecil di Kampung Harapan. Di sebuah warung kopi sederhana yang hampir setiap malam dipenuhi pelanggan, beberapa lelaki paruh baya duduk melingkari meja kayu yang mulai kusam dimakan usia.
Asap kopi mengepul pelan.
Obrolan mereka mengalir dari harga sembako, panen sawit, hingga kabar orang-orang di kampung.
Sampai akhirnya seseorang bertanya lirih.
“Sudah lama ya… Robert nggak kelihatan?”
Suasana mendadak hening.
Tak ada yang langsung menjawab.
Seorang bapak mengembuskan asap rokoknya perlahan.
“Hampir setahun.”
“Memangnya ke mana dia?”
Entahlah.
Tak ada yang benar-benar tahu.
Yang tersisa hanyalah cerita.
Beberapa tahun sebelumnya, Robert adalah sosok yang dikenal hampir semua orang.
Bukan karena ia dermawan.
Bukan pula karena prestasinya.
Melainkan karena satu kebiasaan yang membuat banyak orang menghela napas setiap kali melihatnya datang.
Meminta.
Robert memiliki pekerjaan tetap.
Setiap awal bulan ia menerima gaji yang cukup besar dibandingkan kebanyakan warga kampung.
Ia mengenakan pakaian rapi setiap berangkat kerja.
Motor yang digunakannya juga masih bagus.
Tak jarang ia terlihat makan di restoran ketika berada di kota.
Namun, anehnya, hampir setiap hari ia berkeliling mencari orang yang bisa dimintai uang.
“Bang, pinjam seratus ribu dulu.”
“Besok saya ganti.”
Kalimat itu menjadi salam pembukanya.
Besok berubah menjadi minggu depan.
Minggu depan berubah menjadi bulan depan.
Lalu menghilang begitu saja.
Tak ada pengembalian.
Tak ada rasa bersalah.
Awalnya orang-orang percaya.
Siapa sangka seseorang yang bergaji tetap masih membutuhkan bantuan?
“Tolonglah dia. Mungkin memang lagi susah.”
Begitulah kata mereka.
Tetapi waktu adalah guru yang paling jujur.
Lama-kelamaan semua orang menyadari bahwa Robert bukan sedang kesusahan.
Ia hanya terbiasa hidup dari kebaikan orang lain.








