Cerpen  

Orang yang Selalu Meminta, Tapi Tak Pernah Memberi: Akhir Misterius Sang Pemalak Kehidupan

Ilustrasi seorang pria yang kerap meminta bantuan kepada pemilik usaha di sebuah kampung, sementara warga mulai menunjukkan penolakan setelah lelah dimanfaatkan. Foto: Madi/ AI

Setiap pagi, sebelum benar-benar masuk bekerja, Robert selalu menyempatkan diri mampir ke beberapa warung.

Warung kopi.

Warung sembako.

Bengkel.

Toko material.

Bahkan kios kecil milik janda tua yang penghasilannya pas-pasan.

Ia datang dengan wajah ramah.

Seolah membawa kabar baik.

Padahal yang dibawanya selalu sama.

Permintaan.

“Bang, ada uang receh?”

“Pinjam dulu.”

“Anak lagi butuh.”

“Nanti sore saya bayar.”

Jika diberi lima puluh ribu, esok hari ia datang meminta seratus ribu.

Jika diberi seratus ribu, minggu depannya ia meminta lima ratus ribu.

Baca Juga :  PSU Pilkades Kampung Santai yang Penuh Drama dan Bikin Pusing

Semakin sering dibantu, semakin besar permintaannya.

Tak pernah sekalipun ia berkata,

“Ini uang yang dulu saya pinjam.”

Kalimat itu seperti tak pernah ada di dalam kamus hidupnya.


Suatu sore, Pak Hasan yang memiliki bengkel motor mulai kehilangan kesabaran.

“Robert.”

“Iya, Pak?”

“Sudah berapa kali kau pinjam uang di sini?”

Robert hanya tersenyum.

“Ah… nanti saya bayar.”

Pak Hasan menggeleng.

“Yang kemarin saja belum.”

Robert tertawa kecil.

“Anggap saja sedekah.”

Pak Hasan menatap wajahnya lama.

“Sedekah itu diberikan.”

“Bukan dipaksa.”

Baca Juga :  Si Kancil dan Buaya yang Murah Hati

Robert hanya tertawa, lalu pergi begitu saja.


Kebiasaannya semakin menjadi-jadi.

Bukan hanya meminta kepada teman.

Ia mulai mendatangi para pemilik usaha.

Rumah makan.

Konter pulsa.

Toko bangunan.

Pedagang sayur.

Pemilik kebun.

Semua menjadi sasarannya.

Kadang ia membawa map agar terlihat sedang mengurus kegiatan resmi.

Kadang membawa proposal lama yang bahkan tanggalnya sudah lewat bertahun-tahun.

Kadang hanya datang dengan senyum lebar.

“Kalau ada rezeki, bantu ya.”

Banyak yang akhirnya memberi.

Bukan karena percaya.

Tetapi karena ingin ia segera pergi.