Nama lelaki itu Idam.
Tidak banyak yang tahu dari mana ia berasal. Tidak banyak pula yang peduli bagaimana ia menjalani hari-harinya. Di mata sebagian orang, Idam hanyalah seorang lelaki yang sering berjalan kaki menyusuri sudut-sudut Kota Jambi dengan pakaian sederhana dan tas kecil yang selalu dibawanya.
Namun, di balik langkah kakinya yang panjang, tersimpan sebuah cerita tentang perjuangan.
Idam tidak punya rumah.
Sudah lima bulan ia menjalani hidup dari satu masjid ke masjid lainnya. Malam hari, lantai masjid menjadi tempatnya merebahkan tubuh. Ia tidur beralaskan sajadah atau tikar yang terkadang dipinjamkan pengurus masjid.
Ia tidak pernah meminta banyak.
Baginya, bisa tidur dengan tenang malam itu sudah cukup.
Untuk makan, Idam biasanya mendatangi warung yang berada di sekitar masjid. Kalau sedang punya uang, ia membayar. Kalau tidak punya, ia hanya berdiri dengan wajah sedikit menunduk.
“Bon dulu saja, Dam. Nanti kalau sudah ada uang, bayar,” kata seorang penjual yang sudah mengenalnya.
Kadang-kadang, sebelum Idam sempat berkata apa-apa, ada jamaah masjid yang membelikannya nasi.
“Ini untuk kamu. Makanlah.”
Kalimat sederhana itu sering kali terasa seperti hadiah besar bagi Idam.
Ia selalu mengucapkan terima kasih.
Setelah makan, ia kembali berjalan.
Setiap hari ia berkeliling Kota Jambi mencari pekerjaan. Apa saja ia mau. Menjadi tenaga angkut, membersihkan halaman, menjaga toko, mengantar barang, atau pekerjaan lain yang halal.
Harapannya sebenarnya sederhana.
Ia ingin bekerja.
Dan kalau Tuhan mengizinkan, ia ingin mempunyai tempat tinggal.
Sebab, baginya, memiliki sebuah kamar kecil saja sudah seperti memiliki istana.









