Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah dan pepohonan rindang, tinggallah seorang lelaki bernama Pak Rahman bersama istrinya, Bu Salma, dan anak perempuan mereka yang bernama Aisyah.
Pak Rahman dikenal sebagai orang yang rajin bekerja. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia sudah berangkat membawa keranjang dan beberapa peralatan sederhana. Dahulu, ia bekerja sebagai buruh tani. Namun, beberapa bulan terakhir, keadaan desa sedang sulit. Hasil panen berkurang karena hujan turun tidak menentu. Banyak petani akhirnya mengurangi pekerja, sehingga Pak Rahman semakin jarang mendapatkan pekerjaan.
Hari demi hari, uang simpanan keluarga itu semakin menipis.
Suatu pagi, Bu Salma membuka sebuah wadah beras di dapur. Ia menghela napas panjang.
“Rahman,” panggilnya pelan.
Pak Rahman yang sedang mengikat tali sandalnya segera mendekat.
“Ada apa, Salma?”
“Beras kita tinggal sedikit. Mungkin hanya cukup untuk dua hari.”
Pak Rahman terdiam. Ia memandang wadah beras itu, kemudian menatap istrinya.
“Insyaallah, kita akan mendapatkan rezeki,” katanya lembut.
Bu Salma tersenyum tipis.
“Aku percaya. Tapi aku juga khawatir pada Aisyah. Dia sudah beberapa hari tidak membawa bekal ke sekolah.”
Pak Rahman menundukkan kepala.
Perkataan itu terasa menusuk hatinya. Sebagai seorang ayah, ia tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun, keadaan sedang tidak berpihak kepada mereka.
Setelah berpikir sejenak, Pak Rahman berkata,
“Jangan khawatir. Hari ini aku akan mencari pekerjaan lagi. Apa pun yang bisa dikerjakan, akan aku kerjakan. Yang penting halal.”
Bu Salma mengangguk.
“Semoga Allah memudahkan.”
Pak Rahman pun berangkat.









