Ketika Langit Belum Menurunkan Hujan Rezeki

Pak Rahman bersama istri dan Aisyah berusaha membangun usaha sederhana demi memenuhi kebutuhan keluarga. Foto: Madi

Ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Ia menawarkan tenaganya kepada pemilik kebun, pedagang di pasar, hingga pemilik toko. Namun, hampir semuanya memberikan jawaban yang sama.

“Maaf, Pak Rahman. Kami sedang tidak membutuhkan pekerja.”

Menjelang siang, matahari terasa semakin panas. Keringat membasahi bajunya. Pak Rahman duduk sebentar di bawah pohon mangga di pinggir jalan.

Ia merasa lelah.

Bukan hanya tubuhnya yang lelah, tetapi juga pikirannya.

“Ya Allah,” gumamnya, “aku tidak meminta kekayaan. Aku hanya ingin membawa pulang makanan untuk keluargaku. Tolong tunjukkan jalan.”

Baca Juga :  Keutamaan Rezeki Halal dalam Islam dan Dampaknya bagi Kehidupan

Setelah beristirahat, Pak Rahman melanjutkan perjalanan.

Di dekat pasar, ia melihat seorang pedagang tua sedang kesulitan mengangkat beberapa karung sayuran.

Pak Rahman segera menghampirinya.

“Biar saya bantu, Pak.”

Pedagang itu terkejut.

“Benarkah? Karungnya cukup berat.”

“Tidak apa-apa.”

Pak Rahman mengangkat karung-karung tersebut satu per satu. Setelah semuanya selesai, pedagang itu memberikan beberapa lembar uang.

“Ini untukmu.”

Pak Rahman menggeleng.

“Tidak perlu, Pak. Saya membantu dengan ikhlas.”

Pedagang tua itu tersenyum.

Baca Juga :  Viral untuk Apa?

“Justru karena kamu tidak meminta, aku memberikannya dengan senang hati. Terimalah.”

Pak Rahman akhirnya menerima.

Uang itu memang tidak banyak. Namun, hatinya terasa hangat. Hari itu ia setidaknya bisa membawa sesuatu untuk keluarganya.

Dalam perjalanan pulang, ia melewati sebuah toko kecil yang sudah lama kosong. Tiba-tiba ia mendapatkan sebuah ide.

Sesampainya di rumah, Pak Rahman menceritakan kejadian hari itu kepada Bu Salma.

“Bagaimana kalau kita mencoba berjualan?”

“Berjualan apa?” tanya Bu Salma.