Ketika Langit Belum Menurunkan Hujan Rezeki

Pak Rahman bersama istri dan Aisyah berusaha membangun usaha sederhana demi memenuhi kebutuhan keluarga. Foto: Madi

Aisyah mengangguk.

Pak Rahman melanjutkan,

“Kalau hujan turun setiap hari, tanah juga bisa menjadi banjir. Kalau matahari bersinar terus tanpa hujan, tanaman bisa mati. Begitu juga kehidupan. Ada masa lapang dan ada masa sulit. Yang penting, ketika sulit, kita jangan kehilangan kesabaran.”

Aisyah tersenyum.

“Jadi, ketika langit belum menurunkan hujan rezeki, kita tetap harus menanam?”

Pak Rahman tertawa kecil.

“Betul. Kita tetap menanam. Tetap bekerja. Tetap berdoa. Dan jangan pernah mengambil sesuatu yang bukan hak kita.”

Malam itu, mereka duduk bersama menikmati makan malam sederhana.

Baca Juga :  Alkisah Seorang Mantan Aktivis Dakwah

Tidak ada lauk mewah di atas meja. Hanya nasi, sayur, dan telur.

Namun, bagi keluarga itu, makanan sederhana terasa sangat nikmat.

Pak Rahman memandang istri dan anaknya dengan penuh syukur.

Ia teringat masa ketika beras hampir habis dan pekerjaan sulit ditemukan.

Ternyata masa sulit itu bukan akhir dari segalanya.

Justru dari sanalah ia belajar bahwa rezeki tidak selalu datang dalam bentuk uang. Kadang-kadang, rezeki datang dalam bentuk kesempatan. Kadang berupa orang baik yang membantu. Kadang berupa kesehatan untuk bekerja. Dan kadang berupa kesabaran yang membuat seseorang tidak menyerah ketika keadaan terasa berat.

Baca Juga :  Dari Ladang Sawit yang Sunyi, Lahir Keteguhan Hati dan Rezeki yang Suci

Beberapa bulan kemudian, usaha mereka semakin berkembang.

Pak Rahman bahkan mengajak dua orang tetangganya yang juga sedang kesulitan ekonomi untuk bekerja membuat keranjang bersamanya.

“Kalau rezeki kita bertambah,” katanya, “jangan hanya dinikmati sendiri. Semoga bisa menjadi jalan rezeki untuk orang lain.”

Bu Salma tersenyum bangga melihat suaminya.

Aisyah pun semakin memahami satu hal penting.