Joko bukan mahasiswa yang istimewa.
Ia hanya seorang anak kampung yang beruntung bisa menginjakkan kaki di salah satu kampus negeri di Jambi. Baginya, kuliah adalah jalan untuk mengubah kehidupan. Ia ingin lulus, mendapatkan pekerjaan, lalu membantu keluarganya keluar dari kesulitan ekonomi.
Namun, menjadi mahasiswa bukan perkara mudah.
Uang kuliah harus dibayar. Buku harus dibeli. Ongkos perjalanan harus tersedia. Belum lagi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, Joko tidak hanya kuliah.
Ia bekerja sambilan.
Di sela kesibukannya, Joko juga aktif di Lembaga Dakwah Kampus. Ia rajin mengikuti kajian, menghadiri rapat organisasi, dan sesekali menjadi panitia kegiatan keislaman.
Teman-temannya mengenalnya sebagai pemuda yang sederhana.
“Kalau kita punya ilmu, jangan cuma untuk diri sendiri,” begitu kalimat yang sering ia sampaikan kepada teman-temannya.
Saat itu, hidup Joko memang belum berkecukupan. Tetapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: harapan.
Ia percaya, selama mau berusaha dan tetap berada di jalan yang benar, suatu hari kehidupannya akan berubah.
Lima Juta Rupiah
Memasuki akhir masa kuliah, Joko mencoba mengikuti Program Mahasiswa Wirausaha (PMW).
Ia berharap bantuan modal itu bisa menjadi titik awal untuk membangun usaha kecil. Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya ia mendapatkan bantuan modal sebesar Rp5 juta.
Lima juta bagi sebagian orang mungkin bukan angka besar.
Tetapi bagi Joko, uang itu adalah harapan.
Ia membayangkan bisa memulai usaha, mendapatkan penghasilan, membayar kebutuhan kuliah, dan menyelesaikan tugas akhirnya.
Namun, harapan itu tidak berlangsung lama.
Uang tersebut kemudian berpindah tangan setelah Joko percaya kepada seseorang yang ternyata berkaitan dengan persoalan utang-piutang. Dalam persoalan yang melibatkan oknum pembimbing program tersebut, uang bantuan yang seharusnya menjadi modal usaha Joko akhirnya tidak lagi berada di tangannya.
Lima juta rupiah itu hilang.
Yang lebih menyakitkan, Joko merasa kehilangan bukan hanya uang.
Ia merasa kehilangan kesempatan.
Sejak saat itu, sesuatu dalam dirinya mulai berubah.
Ia kecewa.
Ia marah.
Ia bingung harus mengadu kepada siapa.
Dan yang paling berbahaya, ia mulai mencari pelarian.









