Cerpen  

Lima Juta yang Hilang, Dua Tahun yang Terbuang

Joko termenung di depan laptop dan ponsel, di tengah tekanan kuliah serta jerat judi online yang perlahan menghancurkan masa depannya. Foto: Madi/ Generate by AI

Merantau ke Papua Nugini

Pada suatu titik, Joko mencoba pergi jauh.

Ia merantau hingga ke Papua Nugini.

Dua tahun ia tinggal di sana.

Anehnya, selama berada jauh dari lingkungan lamanya, kebiasaan berjudi itu sempat terlupakan.

Joko bekerja.

Ia menjalani hari-hari seperti orang biasa.

Untuk beberapa waktu, hidupnya terasa lebih tenang.

Tetapi ia tidak betah.

Lingkungan baru, kehidupan yang berbeda, dan kondisi sebagai seorang pendatang membuatnya akhirnya memutuskan pulang.

Ia kembali ke kampung halaman.

Joko mengira kepulangannya akan menjadi awal baru.

Ternyata tidak.

Kembali ke Setelan Lama

Di kampung, Joko bertemu dengan beberapa orang yang tidak begitu dikenalnya.

Mereka sering berkumpul.

Awalnya Joko hanya ikut duduk.

Kemudian ikut berbincang.

Lama-kelamaan ia baru mengetahui bahwa kelompok tersebut memiliki satu kesamaan: mereka adalah orang-orang yang juga mengenal judi online.

Seolah-olah hidup sedang mempertemukannya kembali dengan sesuatu yang selama ini berusaha ia tinggalkan.

Joko sebenarnya tahu judi telah menghancurkan banyak hal dalam hidupnya.

Ia tahu motor pernah terjual.

Baca Juga :  Gaya Hidup yang Salah di Tengah Maraknya Judi Online

Ia tahu pekerjaan pernah ditinggalkan.

Ia tahu uang habis tanpa bekas.

Ia tahu waktu kuliahnya pernah terbuang.

Ia tahu semangat dakwahnya pernah terkikis.

Tetapi kecanduan bukan sekadar soal tahu atau tidak tahu.

Kadang seseorang tahu bahwa sesuatu menghancurkan dirinya, tetapi tetap kembali kepadanya.

Joko pun kembali.

Kembali membuka perjudian.

Kembali mengejar kemenangan.

Kembali berharap mendapatkan uang dengan cepat.

Dan kembali kehilangan.

Sampai Kapan?

Kini, kehidupan Joko masih jauh dari apa yang pernah ia impikan.

Dulu ia memiliki cita-cita.

Dulu ia aktif di kampus.

Dulu ia berada di lingkungan dakwah.

Dulu ia ingin menjadi pengusaha.

Dulu ia berharap memiliki pekerjaan yang baik.

Tetapi satu demi satu kesempatan itu hilang.

Bukan karena Joko tidak pernah diberi kesempatan.

Ia pernah diberi kesempatan.

Hanya saja, ia berkali-kali menukarnya dengan harapan mendapatkan uang secara instan.

Kisah Joko mungkin bukan kisah yang ingin didengar banyak orang.

Namun, justru karena itulah kisah ini layak menjadi pelajaran.

Judi online tidak selalu menghancurkan seseorang dalam satu malam.

Baca Juga :  Drama Diet Keto di Kantor

Kadang ia datang perlahan.

Dimulai dari rasa penasaran.

Kemudian mencoba.

Lalu kalah dan ingin kembali modal.

Menang sedikit lalu ingin menang lebih banyak.

Sampai akhirnya seseorang tidak lagi bermain untuk mencari hiburan, tetapi bermain karena tidak bisa berhenti.

Joko pernah memiliki Rp5 juta dan berharap uang itu menjadi modal masa depan.

Ia pernah memiliki motor.

Ia pernah memiliki pekerjaan.

Ia pernah memiliki kesempatan.

Ia bahkan pernah memiliki lingkungan yang mengajarkannya tentang agama dan kebaikan.

Tetapi semuanya perlahan terkikis.

Bukan karena ia tidak punya mimpi.

Melainkan karena ia memilih mengejar uang instan.

Maka, jika hari ini kita masih bisa berhenti, berhentilah.

Jika belum pernah mencoba, jangan mulai.

Jika sudah terlanjur, cari pertolongan dan putuskan rantainya.

Sebab judi tidak pernah benar-benar menjanjikan kemenangan.

Kalah membuat penasaran. Menang membuat ketagihan.

Lalu pertanyaannya:

Mau sampai kapan?

Stop judi online mulai sekarang. Jangan tunggu sampai yang tersisa dari hidup kita hanya penyesalan.