Dari Warnet ke Warnet
Hampir setiap hari Joko pergi ke warnet di Kota Jambi.
Awalnya hanya bermain game.
Duduk berjam-jam di depan komputer, memakai headset, tertawa bersama teman-teman dunia maya. Beberapa jam di warnet membuatnya lupa terhadap masalah yang sedang dihadapi.
Tetapi waktu terus berjalan.
Game mulai terasa membosankan.
Ia kemudian mengenal poker online.
Awalnya hanya penasaran.
“Sekali-sekali saja.”
Begitu pikirnya.
Kalah sedikit, ia penasaran.
Kalah lagi, ia ingin mengembalikan uang yang hilang.
Menang sekali, ia merasa menemukan jalan keluar.
Padahal, tanpa disadarinya, ia sedang memasuki pintu yang akan mengubah hidupnya.
Joko mulai mengenal satu hukum sederhana dalam judi:
Kalah membuat penasaran, menang membuat ketagihan.
Sementara itu, ada satu hal yang perlahan ia lupakan.
Skripsinya.
Tugas akhir yang seharusnya menjadi jalan menuju wisuda justru terbengkalai. Buku-buku yang dahulu sering dibacanya mulai berdebu. Kegiatan kampus ditinggalkan. Kajian yang dahulu rutin diikuti semakin jarang.
Bahkan semangat dakwah yang pernah menjadi bagian dari hidupnya mulai terkikis.
Joko masih orang yang sama.
Tetapi kebiasaannya sudah berubah.
Setahun yang Hilang
Hari berganti minggu.
Minggu berganti bulan.
Tanpa terasa, hampir setahun berlalu.
Akhirnya Joko menyelesaikan skripsinya.
Ia wisuda.
Orang-orang mengucapkan selamat.
Keluarga merasa bangga.
Foto dengan toga tersimpan di album.
Tetapi ada sesuatu yang tidak ikut diwisudakan.
Kebiasaan buruknya.
Warnet dan judi online masih menunggunya.
Setelah menjadi sarjana, Joko berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang baik. Ia bahkan sempat menerima lamaran kerja.
Namun, ketika kebutuhan uang datang dan pikirannya kembali tertuju pada uang instan, judi online kembali mengambil alih.
“Kalau menang, bisa dapat lebih banyak.”
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Motor yang dimilikinya akhirnya dijual.
Uangnya habis.
Bukan untuk membangun usaha.
Bukan untuk membantu keluarga.
Bukan untuk masa depan.
Uang itu lenyap di meja judi virtual.
Pekerjaan yang sudah diterima pun akhirnya ditinggalkan.
Joko semakin tenggelam.









