Cerpen  

Takut Istri, Lupa Teman

Ilustrasi suasana Tono bersama teman-temannya di sebuah warung kopi di Dusun Legok. Foto: Madi/ AI

Di sebuah dusun yang tenang bernama Legok, Kecamatan Pelepat Ilir, hiduplah seorang pria bernama Tono. Ia bukan orang yang miskin, juga bukan orang kaya. Kehidupannya berjalan seperti kebanyakan warga desa lainnya. Ia telah menikah dengan seorang bidan berstatus PNS dan dikaruniai dua orang anak yang lucu dan sehat.

Di mata tetangga, Tono dikenal sebagai sosok yang ramah. Ia mudah bergaul dan hampir selalu terlihat nongkrong di warung kopi bersama teman-temannya. Namun, ada satu kebiasaan yang membuat banyak orang hanya bisa menggelengkan kepala.

Tono sangat gemar mencari makan gratis.

Setiap kali ada teman yang mengajak sarapan, ia akan datang lebih dulu. Jika ada yang berkata, “Hari ini saya yang bayar,” Tono adalah orang pertama yang mengangguk sambil tersenyum lebar.

“Kalau gratis, kenapa harus bayar?” begitu candanya yang sering mengundang tawa, meski di balik tawa itu, teman-temannya mulai memahami sifatnya.

Anehnya, hampir tidak pernah terdengar Tono berkata, “Sekarang giliran saya.”

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Teman-temannya tetap memaklumi. Mereka berpikir mungkin keadaan ekonomi Tono sedang sulit.

Suatu hari, keberuntungan menghampiri Tono.

Usaha kecil yang selama ini ia jalankan tiba-tiba mendapat pesanan besar. Keuntungan yang ia peroleh mencapai puluhan juta rupiah. Warga dusun ikut senang mendengar kabar itu.

“Wah, akhirnya rezeki Tono datang juga,” kata Pak Rahman di warung kopi.

Teman-temannya ikut bahagia. Mereka berharap Tono akan mengajak makan bersama sebagai bentuk rasa syukur.

Namun, harapan tinggal harapan.

Sejak uang itu diterima, Tono justru semakin jarang muncul di warung. Kalau pun datang, ia hanya duduk sebentar lalu pulang.

Baca Juga :  Alkisah Seorang Mantan Aktivis Dakwah

Suatu sore, seorang teman bercanda, “Ton, sekarang sudah banyak rezeki. Kapan traktir kami? Dulu kami sering bayarin kamu.”

Tono hanya tersenyum tipis.

“Nanti… nanti saja.”

Tapi “nanti” itu tidak pernah datang.

Ternyata, begitu uang diterima, seluruh hasil jerih payahnya langsung ia serahkan kepada istrinya.

“Ini semua untuk kamu yang pegang,” katanya sambil menyerahkan amplop tebal.

Istrinya memang seorang bidan PNS yang sangat teliti mengatur keuangan keluarga. Semua pemasukan disimpan, dicatat, dan digunakan sesuai kebutuhan rumah tangga.

Sejak saat itu, jika Tono ingin membeli sesuatu, bahkan sekadar membeli kopi, ia harus meminta izin kepada istrinya.

“Bu, boleh ambil uang buat ngopi?”

“Ngopi di rumah saja. Masih ada kopi kemarin.”

“Iya, Bu.”

Tak ada bantahan.

Kalau ingin membeli rokok pun begitu.

“Bu, boleh beli rokok sebungkus?”

“Kurangi merokok. Itu tidak baik.”

“Iya, Bu.”

Jawabannya selalu sama.

Teman-temannya mulai paham bahwa Tono bukan hanya pelit kepada mereka. Ia juga tidak lagi bebas menggunakan uangnya sendiri.

Di balik sifatnya yang suka makan gratis, ternyata ia juga dikenal sebagai suami yang sangat patuh kepada istrinya. Apa pun keputusan sang istri, hampir selalu ia ikuti tanpa perlawanan.

Suatu malam, ketika mereka berkumpul di warung kopi, seorang teman berkata pelan,

“Ton, kami tidak pernah iri dengan rezekimu. Kami juga tidak berharap dibayar kembali. Tapi setidaknya, kalau hidup sedang lapang, jangan lupa orang-orang yang pernah menemanimu saat sempit.”

Baca Juga :  Ketika Otot Berkuasa, Otak Terlupakan

Kalimat itu membuat Tono terdiam.

Ia teringat berapa kali ia menikmati sarapan yang dibayar teman. Berapa banyak gelas kopi yang ia habiskan tanpa pernah mengeluarkan uang sendiri. Ia juga teringat tawa mereka yang selalu menyambutnya tanpa pernah menghitung siapa yang paling sering membayar.

Malam itu, Tono pulang dengan langkah lebih lambat dari biasanya.

Sesampainya di rumah, ia berbicara kepada istrinya.

“Bu, besok aku ingin mengajak teman-teman makan. Mereka banyak berjasa waktu aku belum punya apa-apa.”

Istrinya menatapnya beberapa saat, lalu tersenyum.

“Kalau memang itu bentuk rasa terima kasih, lakukan. Rezeki tidak akan berkurang karena berbagi.”

Keesokan harinya, warung kecil di Dusun Legok mendadak ramai.

Untuk pertama kalinya, Tono berkata kepada pemilik warung,

“Hari ini semua yang makan di meja teman-teman saya, saya yang bayar.”

Teman-temannya saling berpandangan, lalu tertawa.

“Alhamdulillah… akhirnya Tono yang traktir juga.”

Mereka tidak melihat besarnya nilai makanan yang dibayar. Yang mereka hargai adalah perubahan sikap seorang sahabat yang akhirnya mengerti bahwa persahabatan bukan hanya soal menerima, tetapi juga tentang memberi dan menghargai orang-orang yang selalu ada dalam perjalanan hidup.

Sejak hari itu, Tono masih tetap menjadi suami yang patuh kepada istrinya. Namun, ia juga belajar menjadi sahabat yang tahu berterima kasih. Sebab ia menyadari, rezeki bukan sekadar untuk dinikmati sendiri, melainkan juga untuk mempererat silaturahmi dan membalas kebaikan yang pernah diterima.