Ketua PP Muhammadiyah: Mahasiswa Harus Jadi Pembelajar Sepanjang Hayat

Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad. Foto: Dok. muhammadiyah.or.id

SIDAKPOST.ID, BANDUNG – Mahasiswa Muhammadiyah diminta mampu membedakan antara ilmu dan ijazah. Sebab, proses menuntut ilmu tidak boleh berhenti hanya karena seseorang telah memperoleh ijazah dan gelar akademik.

Pesan tersebut dilansir dari muhammadiyah.or.id, terkait penyampaian Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dadang Kahmad, pada Sabtu (12/9), dalam Wisuda ke-9 Program Sarjana Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.

“Gelar adalah amanah ilmu yang saudara peroleh selama menempuh pendidikan di UMB dan harus diwujudkan dalam karya pengabdian dan kemanfaatan. Ilmu tidak boleh berhenti pada ijazah,” ungkap Dadang Kahmad.

Baca Juga :  STIA Setih Setio Sukses Gelar Wisuda ke XXXIII

Menurutnya, ilmu harus menjadi cahaya yang menerangi jalan kehidupan, menjadi kekuatan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, serta menjadi sarana untuk membangun peradaban yang maju.

Dadang menekankan, jangan sampai setelah mendapat gelar dan menerima ijazah, seorang mahasiswa merasa sudah selesai untuk belajar. Sebab, berbagai perubahan teknologi informasi akan berdampak terhadap kebutuhan dunia kerja.

“Karena itu jangan merasa bahwa setelah memperoleh ijazah maka proses belajar telah selesai. Justru setelah wisuda proses belajar sesungguhnya dimulai. Jadilah pembelajar sepanjang hayat,” katanya.

Baca Juga :  Transformasi Pendidikan di Indonesia: Peran Teknologi dalam Meningkatkan Kualitas Belajar

Institusi pendidikan seperti Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) merupakan jalan masuk menuju luasnya ilmu kehidupan. Karena itu, mahasiswa diminta mampu beradaptasi, berpikir kritis, bekerja sama, komunikatif, dan menggunakan teknologi secara bijak.

“Namun ada satu hal yang lebih penting dari pada sekadar kecerdasan dan keterampilan, yaitu karakter dan integritas. Dunia mungkin membutuhkan orang pintar, tetapi masyarakat sangat membutuhkan orang yang jujur,” imbuh Dadang. (sum)