Sejak hari itu, Haji Lukman justru semakin mempercayai Idam.
Ia tidak mengusirnya.
Sebaliknya, ia memberi nasihat.
“Dam, kalau suatu hari kamu punya uang banyak, jangan pernah lupa masa lalu.”
Idam mengangguk.
“Saya tidak akan lupa, Pak.”
“Kalau nanti kamu sudah punya rumah sendiri, ingatlah orang-orang yang pernah membantumu ketika kamu tidak punya tempat berteduh.”
“Saya ingat, Pak.”
“Dan kalau suatu hari ada orang seperti kamu dulu, jangan kamu tutup pintu.”
Idam mengangguk lagi.
“Insyaallah.”
Waktu terus berjalan.
Idam akhirnya mulai menabung.
Sedikit demi sedikit.
Ia memiliki sebuah impian baru.
Bukan mobil.
Bukan rumah mewah.
Bukan pula kehidupan berlebihan.
Ia hanya ingin memiliki tempat tinggal kecil yang bisa ia sebut rumah.
Sebuah rumah yang ketika malam tiba, ia bisa membuka pintu dan berkata dalam hati:
“Akhirnya, aku pulang.”
Beberapa tahun kemudian, impian itu mulai mendekati kenyataan.
Idam berhasil menyewa sebuah rumah kecil.
Tidak besar.
Tidak mewah.
Namun ketika pertama kali membuka pintunya, Idam berdiri lama di dalam rumah itu.
Ia melihat sebuah kamar kecil.
Sebuah ruang tamu sederhana.
Dapur yang bahkan hanya berisi beberapa peralatan.
Tetapi air matanya mengalir.
Ia teringat malam-malam ketika dirinya tidur di lantai masjid.
Teringat warung yang memberinya makan dengan bon.
Teringat jamaah yang diam-diam membelikannya nasi.
Dan tentu saja, ia teringat seorang lelaki yang pernah menyerahkan kunci motor kepadanya ketika mereka bahkan baru berkenalan.
Haji Lukman.
Idam mengambil telepon genggamnya.
Ia menelepon.
“Assalamualaikum, Pak.”
“Waalaikumsalam. Kenapa, Dam?”
“Saya sudah punya rumah, Pak.”
Di ujung telepon, Haji Lukman terdiam sejenak.
“Alhamdulillah.”
Suara Haji Lukman terdengar bergetar.
“Jaga rumah itu baik-baik.”
“Iya, Pak.”
“Dan satu lagi.”
“Apa, Pak?”
“Jangan pernah merasa keberhasilanmu hanya karena kemampuanmu sendiri.”
Idam tersenyum.
“Saya tahu, Pak.”
“Kadang Tuhan mengirim pertolongan melalui orang yang baru kita kenal.”
Idam menatap langit-langit rumahnya.
“Iya, Pak. Dan Bapak adalah salah satu pertolongan Tuhan yang paling besar dalam hidup saya.”









