Sore itu, setelah berjalan cukup jauh, Idam berhenti di sebuah warung kopi.
Tubuhnya terlihat lelah. Ia duduk di sudut warung, memesan kopi dengan uang yang tersisa.
Di meja tidak jauh darinya, duduk seorang lelaki bernama Haji Lukman.
Lelaki itu beberapa kali memperhatikan Idam.
Bukan karena penampilannya.
Ada sesuatu dari wajah Idam yang membuat Haji Lukman penasaran. Wajah seseorang yang sedang berjuang, tetapi tidak kehilangan harapan.
“Kamu kerja di mana?” tanya Haji Lukman.
Idam tersenyum tipis.
“Belum ada kerja, Pak.”
“Rumah di mana?”
Pertanyaan itu membuat Idam terdiam.
Beberapa detik kemudian, ia menjawab pelan.
“Saya tidak punya rumah, Pak.”
Haji Lukman terdiam.
“Terus tinggal di mana?”
“Kadang di masjid.”
“Masjid?”
“Iya, Pak. Kalau malam saya tidur di masjid. Kalau makan kadang di warung sekitar masjid. Kalau tidak ada uang, kadang dikasih bon. Kadang ada jamaah yang membelikan.”
Haji Lukman memandangnya cukup lama.
“Lalu setiap hari kamu ngapain?”
“Cari kerja, Pak.”
“Kalau dapat kerja, kamu bisa apa?”
Idam mulai bercerita.
Ia mengatakan pekerjaan apa saja pernah dilakukannya. Ia tidak banyak menuntut. Yang penting halal dan bisa membuatnya bertahan hidup.
Haji Lukman kemudian bertanya lagi.
“Kalau saya kasih kamu pekerjaan, kamu mau?”
Idam langsung mengangguk.
“Mau, Pak.”
“Ikut saya.”
Idam tampak bingung.
“Ke mana, Pak?”
“Kantor.”
Ternyata kantor Haji Lukman tidak jauh dari warung kopi tersebut. Sebuah kantor notaris yang cukup sederhana, tetapi terlihat ramai dengan aktivitas.
Hari itu menjadi awal perubahan besar dalam kehidupan Idam.









