Cerpen  

Di Bawah Atap Masjid, Menemukan Rumah di Hati Orang Lain

Idam berbincang bersama Haji Lukman di sebuah warung kopi, menjadi awal pertemuan yang mengubah perjalanan hidupnya dari keterbatasan menuju harapan. Foto: Madi/ AI

Beberapa orang mulai berbicara kepada Haji Lukman.

“Pak, jangan terlalu percaya sama Idam.”

“Dia itu baru dikenal.”

“Siapa tahu ada maksud lain.”

“Lebih baik dipecat saja sebelum terjadi sesuatu.”

Awalnya Haji Lukman tidak terlalu mempedulikannya.

Tetapi suara-suara itu semakin sering datang.

Sedikit demi sedikit, keraguan mulai mencoba masuk ke dalam pikirannya.

Suatu sore, Haji Lukman memanggil Idam.

“Dam.”

“Iya, Pak.”

“Duduk.”

Idam duduk di hadapan Haji Lukman.

Haji Lukman tidak langsung berbicara.

Ada jeda panjang.

“Ada orang yang bilang kamu tidak baik.”

Idam menunduk.

“Katanya saya harus diusir, Pak?”

Haji Lukman terkejut.

“Kamu tahu?”

Idam tersenyum.

“Saya tahu, Pak. Saya juga manusia. Saya bisa dengar.”

Baca Juga :  Car Free Day di Depan Rumah Dinas Bupati Bungo, Ajang Sehat dan Cerita Sukses Pak Anton Sang Penjual Mainan

Haji Lukman diam.

“Saya tidak akan membela diri, Pak. Kalau Bapak sudah tidak percaya, saya bisa pergi.”

Idam berdiri.

Namun Haji Lukman menahannya.

“Duduk dulu.”

Idam kembali duduk.

“Saya bertanya kepada kamu, Dam. Selama hampir dua tahun ini, pernahkah kamu mengambil sesuatu yang bukan hakmu?”

Idam menggeleng.

“Pernahkah kamu mengkhianati kepercayaan saya?”

“Tidak, Pak.”

“Kalau begitu, kenapa kamu takut?”

Idam menarik napas panjang.

“Saya bukan takut kehilangan pekerjaan, Pak.”

“Lalu?”

“Saya takut kembali ke jalan.”

Kalimat itu membuat ruangan menjadi sunyi.

Idam menatap lantai.

“Saya sudah pernah merasakan bagaimana susahnya tidak punya siapa-siapa. Tidur di masjid. Makan kalau ada yang memberi. Berjalan seharian mencari kerja. Saya tidak ingin kembali ke sana.”

Baca Juga :  Orang yang Selalu Meminta, Tapi Tak Pernah Memberi: Akhir Misterius Sang Pemalak Kehidupan

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Tapi kalau suatu hari Bapak benar-benar tidak membutuhkan saya, saya akan pergi. Saya cuma mohon, jangan anggap saya orang jahat hanya karena cerita orang lain.”

Haji Lukman terdiam cukup lama.

Kemudian ia berkata pelan.

“Dam, orang yang baik bukan berarti tidak pernah difitnah. Orang yang dipercaya bukan berarti tidak pernah dicurigai.”

Ia menatap Idam.

“Saya melihat kamu bukan dari cerita orang. Saya melihat dari bagaimana kamu bekerja selama hampir dua tahun.”

Idam menunduk.

Air matanya jatuh.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena lega.