Hari-hari berikutnya semakin berat.
Ke mana pun ia pergi, jawabannya sama.
“Maaf.”
“Tidak ada.”
“Lagi kosong.”
Padahal semua tahu uang itu ada.
Yang telah habis hanyalah kepercayaan.
Pada suatu pagi yang mendung, Robert keluar rumah lebih awal.
Ia mengenakan kemeja biru kesayangannya.
Tas hitam kecil tersampir di bahunya.
Tetangganya sempat menyapa.
“Mau kerja, Robert?”
“Iya.”
“Itu motornya kok penuh debu?”
“Nanti juga dicuci.”
Ia tersenyum.
Senyum yang entah mengapa terasa berbeda.
Sejak pagi itu, tak seorang pun pernah melihat Robert lagi.
Motor tuanya tidak pernah kembali.
Nomor teleponnya tidak aktif.
Tempat kerjanya mengatakan ia sudah beberapa hari tidak masuk.
Keluarganya melapor ke mana-mana.
Pencarian dilakukan.
Poster orang hilang ditempel di berbagai sudut kota.
Namun hasilnya nihil.
Robert lenyap.
Seolah bumi menelannya tanpa jejak.
Berbulan-bulan kemudian, orang-orang masih membicarakan namanya.
Ada yang percaya ia sengaja melarikan diri karena terlalu banyak utang.
Ada yang yakin ia memilih memulai hidup baru di kota lain.
Ada pula yang hanya mengangkat bahu.
Tak ada yang tahu.
Yang pasti, sejak Robert menghilang, kampung itu terasa jauh lebih tenang.
Tak ada lagi suara motor yang berhenti mendadak di depan warung.
Tak ada lagi senyum yang diikuti permintaan uang.
Tak ada lagi janji “besok saya ganti” yang tak pernah menjadi kenyataan.
Pak Hasan pernah berkata pelan kepada cucunya yang duduk di sampingnya.
“Kalau kamu ingin ditolong orang, belajarlah dulu menolong mereka.”
Cucunya mengangguk.
“Lalu bagaimana kalau kita hanya meminta terus, Kek?”
Pak Hasan menatap jalan yang mulai gelap.
“Orang bisa kehilangan uang karena membantu.”
“Tapi seseorang bisa kehilangan seluruh hidupnya ketika ia kehilangan kepercayaan.”
Hujan kembali turun.
Suara rintiknya menutup percakapan mereka.
Di sudut warung kopi, kursi yang dulu sering diduduki Robert tetap kosong.
Tak ada yang berani memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Namun satu hal dipahami semua orang di kampung itu.
Kebaikan adalah tabungan yang tak pernah rugi.
Sebaliknya, orang yang sepanjang hidupnya hanya mengambil tanpa pernah memberi, pada akhirnya akan berjalan sendirian.
Dan ketika semua pintu telah tertutup, tak selalu masih ada kesempatan untuk mengetuknya kembali.









