Cerpen  

Orang yang Selalu Meminta, Tapi Tak Pernah Memberi: Akhir Misterius Sang Pemalak Kehidupan

Ilustrasi seorang pria yang kerap meminta bantuan kepada pemilik usaha di sebuah kampung, sementara warga mulai menunjukkan penolakan setelah lelah dimanfaatkan. Foto: Madi/ AI

Ironisnya, Robert hampir tak pernah terlihat membantu siapa pun.

Ketika rumah Pak Ahmad roboh diterjang angin, seluruh warga bergotong royong.

Robert hanya lewat sambil berkata,

“Semoga cepat selesai.”

Lalu pergi.

Saat anak Bu Rina membutuhkan biaya operasi dan warga mengumpulkan donasi, Robert justru bertanya,

“Masih ada uang kas yang bisa dipinjam?”

Kalimat itu membuat beberapa orang terdiam.

Ada pula yang mulai marah.

Namun mereka memilih menahan diri.


Nama Robert perlahan berubah menjadi bahan pembicaraan.

Jika seseorang melihat motornya memasuki gang, kabar itu menyebar lebih cepat daripada suara azan.

“Robert datang.”

Baca Juga :  Si Semut dan Ulat yang Menolong Tanpa Pamrih

Pemilik warung pura-pura menghitung stok.

Pemilik toko masuk ke gudang.

Orang yang sedang duduk di teras buru-buru masuk rumah.

Bahkan anak-anak kecil mulai mengenali kebiasaannya.

“Pak… Om Robert datang.”

Kalimat itu cukup membuat ayah mereka mematikan lampu depan rumah.

Robert mulai heran.

Mengapa semua orang berubah?

Mengapa teleponnya jarang diangkat?

Mengapa pesan WhatsApp hanya centang satu?

Mengapa tidak ada lagi yang mau meminjamkan uang?

Dalam pikirannya, semua orang telah menjadi pelit.

Tak pernah sekalipun ia berpikir bahwa mungkin dirinya yang salah.


Suatu hari ia mendatangi warung kopi langganannya.

Baca Juga :  Di Balik Hijau Daun Sawit

“Bang, kopi satu.”

Pemilik warung mengangguk.

Setelah kopi habis, Robert berdiri.

“Utang dulu ya.”

Pemilik warung menggeleng.

“Mulai hari ini tidak ada lagi.”

Robert tertawa.

“Serius amat.”

“Saya serius.”

“Kalau begitu pinjam lima puluh ribu saja.”

“Tidak.”

“Dua puluh?”

“Tidak.”

“Sepuluh ribu?”

Pemilik warung menatap matanya.

“Robert.”

“Kami capek.”

Hanya dua kata itu.

Namun terasa lebih berat daripada batu.

Robert berdiri beberapa saat.

Lalu keluar tanpa berkata apa-apa.

Di luar warung, untuk pertama kalinya ia melihat beberapa orang memandangnya bukan dengan rasa iba.

Melainkan dengan rasa lelah.