Kabar kematiannya sampai ke pasar.
Beberapa pedagang yang mengenalnya terdiam.
Ada yang mengingat Tego sebagai lelaki yang sering meminta uang.
Ada yang merasa kasihan.
Ada pula yang hanya menggelengkan kepala.
Anak kecil yang dulu menegurnya sudah tumbuh dewasa.
Mungkin ia bahkan sudah lupa dengan kalimat yang pernah diucapkannya.
Namun bagi Tego, kalimat itu adalah teguran yang tidak pernah benar-benar hilang.
Tego sebenarnya sudah tahu bahwa hidupnya salah.
Ia hanya selalu berkata:
“Besok aku berubah.”
Tetapi manusia tidak pernah tahu berapa banyak “besok” yang masih Tuhan berikan.
Tego menunggu terlalu lama.
Dan akhirnya, besok yang selalu ia tunggu tidak pernah datang.
TAMAT
Editor: Madi









