Tego tidak langsung meninggal.
Ia dibawa ke rumah sakit dalam kondisi sangat kritis.
Dokter berusaha menyelamatkan nyawanya.
Istrinya dari Pulau Jawa datang.
Hari berganti minggu.
Minggu berganti bulan.
Bulan berganti tahun.
Namun Tego tidak juga sadar sepenuhnya.
Sepuluh tahun.
Sepuluh tahun Tego terbaring di antara hidup dan mati.
Selama sepuluh tahun itu, istrinya tetap berada di sisinya.
Kadang ia menggenggam tangan Tego.
Kadang ia menangis.
Kadang ia bercerita tentang masa lalu.
Tentang rumah mereka.
Tentang hari-hari ketika mereka masih bahagia.
“Mas…”
Tidak pernah ada jawaban.
Sampai suatu pagi, setelah sepuluh tahun berlalu, napas Tego mulai melemah.
Istrinya duduk di samping tempat tidur.
Tangannya menggenggam tangan Tego.
“Mas…”
Mata Tego bergerak.
Perlahan terbuka.
Ia memandang istrinya.
Bibirnya bergerak.
Suaranya hampir tidak terdengar.
“Maaf…”
Istrinya menangis.
Tego memejamkan mata kembali.
Di dalam pikirannya, ia melihat pasar.
Ia melihat para pedagang.
Ia melihat teman-temannya.
Ia melihat meja judi.
Ia melihat kafe.
Ia melihat jalanan.
Dan terakhir…
Ia melihat seorang anak kecil.
Anak kecil yang dulu berdiri di samping ayahnya.
Anak kecil yang hanya mengucapkan satu kalimat sederhana.
“Om gagah kok nggak malu kerjanya minta-minta sama orang jualan?”
Tego akhirnya mengerti.
Selama ini bukan uang yang ia cari.
Ia mencari kesenangan.
Mengejar kemenangan.
Mengejar kehidupan yang sebenarnya tidak pernah membuatnya bahagia.
Dan ketika akhirnya ia ingin berubah, hidup telah memberikan kesempatan yang sangat sedikit.
Napasnya semakin lemah.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian berhenti.
Tego meninggal dunia.









