Si Burung Beo dan Kerajaan Seribu Like: Ketika Popularitas Bukan Segalanya

Bimo si burung beo tampil ceria di tengah para hewan hutan. Foto: Madi/ AI

“Like bisa membuatku terkenal,” gumamnya.

“Tapi like tidak bisa menjadi sahabatku.”

Keesokan harinya, Bimo melakukan sesuatu yang mengejutkan.

Ia menghapus beberapa video yang dibuatnya hanya demi popularitas.

Kemudian ia membuat sebuah video baru.

Dalam video itu, Bimo berbicara jujur.

“Teman-teman, selama ini aku terlalu mengejar popularitas. Aku berpikir semakin banyak like, semakin berharga diriku. Ternyata aku salah.”

Bimo menarik napas.

“Aku belajar bahwa jumlah pengikut tidak menentukan nilai seseorang. Yang lebih penting adalah bagaimana kita memperlakukan orang lain dan bagaimana kita menggunakan media sosial dengan bijak.”

Baca Juga :  Burung Pipit dan Angin Kencang

Video itu kemudian menyebar ke seluruh Kerajaan Hutan.

Ternyata banyak hewan yang merasa pernah mengalami hal yang sama.

Ada yang terlalu sibuk mencari komentar.

Ada yang merasa sedih ketika unggahannya tidak disukai.

Ada yang rela melakukan hal berbahaya hanya demi menjadi terkenal.

Pesan Bimo membuat mereka berpikir.

Beberapa hari kemudian, Raja Singa kembali mengundang Bimo ke istana.

“Bimo,” kata Raja Singa, “aku ingin memberikan penghargaan kepadamu.”

Bimo terkejut.

Baca Juga :  Si Kelinci yang Ingin Terbang

“Penghargaan apa, Yang Mulia?”

“Penghargaan sebagai Pengguna Media Sosial Paling Bijak di Kerajaan Hutan.”

Semua hewan bersorak.

Namun kali ini, Bimo tidak merasa bangga karena menjadi pusat perhatian.

Ia justru tersenyum karena tahu bahwa ia telah belajar sesuatu yang jauh lebih penting.

Sejak saat itu, Bimo tetap menggunakan media sosial.

Ia tetap membuat video.

Ia tetap berbagi cerita.

Ia tetap menghibur penghuni hutan.

Tetapi ia tidak lagi mengejar angka.

Jika videonya mendapatkan banyak like, ia bersyukur.