Si Burung Beo dan Kerajaan Seribu Like: Ketika Popularitas Bukan Segalanya

Bimo si burung beo tampil ceria di tengah para hewan hutan. Foto: Madi/ AI

Di sebuah hutan yang luas dan indah, hiduplah seekor burung beo bernama Bimo. Ia tinggal di sebuah pohon beringin tua bersama keluarganya. Bimo memiliki bulu berwarna hijau cerah, paruh yang kuat, dan kemampuan menirukan berbagai suara dengan sangat baik.

Sejak kecil, Bimo memang terkenal pandai berbicara.

Ia bisa menirukan suara burung elang, suara monyet, suara katak, bahkan suara manusia yang pernah didengarnya dari kejauhan.

“Selamat pagi!”

“Ha-ha-ha!”

“Jangan lupa sarapan!”

Bimo bisa mengucapkan semuanya dengan suara yang sangat mirip.

Baca Juga :  Dongeng Anak: Si Kelinci dan Semut Kecil – Pelajaran tentang Tolong-Menolong

Teman-temannya sering tertawa dan kagum melihat kemampuannya.

Namun, Bimo memiliki satu kelemahan.

Ia sangat suka dipuji.

Semakin banyak yang memperhatikannya, semakin senang hatinya.

Suatu hari, seekor burung merpati bernama Lala datang membawa kabar dari Kerajaan Hutan.

“Bimo, kamu sudah mendengar berita terbaru?” tanya Lala.

“Berita apa?” Bimo langsung mendekat.

“Di Kerajaan Hutan sekarang ada sebuah pohon ajaib bernama Pohon Seribu Like.”

“Pohon Seribu Like?” Bimo membelalakkan mata.

Lala mengangguk.

“Konon, siapa pun yang mendapatkan banyak tanda suka dari penghuni hutan akan menjadi burung paling terkenal di kerajaan.”

Baca Juga :  Siaran Live TikTok di Tempat Umum Tanpa Izin

Mendengar itu, mata Bimo berbinar.

“Burung paling terkenal?”

“Benar.”

“Berarti semua penghuni hutan akan mengenalku?”

“Mungkin saja.”

Bimo langsung membayangkan dirinya berdiri di atas panggung, dikelilingi banyak hewan.

Semua memuji dirinya.

“Bimo hebat!”

“Bimo pintar!”

“Bimo burung paling terkenal!”

Sejak hari itu, Bimo berubah.

Ia tidak lagi terlalu peduli dengan kegiatan yang biasa dilakukannya bersama keluarga. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya mencari cara agar dirinya semakin terkenal.