“Kalau aku mengambil buah itu sambil direkam, pasti videoku akan viral,” pikir Bimo.
Ia pun terbang menuju pohon tersebut.
Namun, ketika hendak mengambil buah, tiba-tiba angin kencang bertiup.
Bimo kehilangan keseimbangan.
“Waaa!”
Tubuhnya jatuh.
Untung saja, ia berhasil mencengkeram sebuah ranting kecil.
Namun ranting itu mulai patah.
“Tolong!”
Untuk pertama kalinya, Bimo tidak memikirkan like.
Ia benar-benar ketakutan.
“Tolong aku!”
Tidak jauh dari sana, Lala sedang terbang.
Ia mendengar suara Bimo.
“Bimo!”
Lala segera memanggil hewan-hewan lain.
Monyet datang membawa tali dari akar pohon.
Rusa membantu menahan tali.
Gajah berdiri di bawah untuk berjaga-jaga.
Burung-burung lain ikut membantu.
Dengan kerja sama, akhirnya Bimo berhasil diselamatkan.
Bimo terdiam.
Ia melihat semua sahabatnya.
Mereka tidak membawa kamera.
Tidak ada yang merekam.
Tidak ada yang bertanya berapa jumlah like.
Mereka hanya ingin menyelamatkannya.
Bimo menundukkan kepala.
“Kenapa kalian mau menolongku?” tanyanya pelan.
Lala tersenyum.
“Karena kamu adalah sahabat kami.”
Bimo terdiam.
Kalimat sederhana itu terasa sangat dalam.
Ia kemudian melihat mahkota daun emas yang masih dikenakannya.
Selama ini, ia mengira mahkota itu membuat dirinya berharga.
Padahal, tanpa mahkota pun, sahabat-sahabatnya tetap menyayanginya.
Malam itu, Bimo duduk sendirian di atas pohon beringin.
Ia membuka media sosialnya.
Jumlah pengikutnya masih banyak.
Namun untuk pertama kalinya, angka-angka itu tidak membuatnya bahagia.
Ia teringat keluarganya.
Ia teringat Lala.
Ia teringat hari-hari ketika mereka bermain bersama tanpa memikirkan siapa yang melihat.
Bimo akhirnya memahami sesuatu.









