Suatu sore, sahabatnya, Lala, datang menemuinya.
“Bimo, ayo kita mencari buah bersama,” ajak Lala.
“Tidak bisa. Aku harus membuat konten.”
“Besok saja?”
“Besok juga aku sibuk.”
Lala terlihat sedih.
“Kamu sekarang berbeda, Bimo.”
“Berbeda bagaimana?”
“Dulu kamu senang bermain bersama kami. Sekarang kamu hanya memikirkan like.”
Bimo tertawa.
“Lala, kamu tidak mengerti. Aku sekarang terkenal.”
Lala hanya diam.
Ia kemudian terbang meninggalkan Bimo.
Hari-hari berlalu.
Jumlah pengikut Bimo semakin banyak.
Tetapi semakin banyak pengikutnya, semakin besar pula tekanan yang dirasakannya.
Suatu hari, Bimo membuat sebuah video.
Ia ingin menirukan suara Raja Singa.
Ia pun berteriak dengan suara yang dibuat-buat.
“Akulah Raja Singa! Semua harus tunduk kepadaku!”
Bimo berharap video itu menjadi viral.
Namun, ternyata banyak hewan yang marah.
Mereka menganggap Bimo tidak sopan karena menirukan suara raja tanpa izin.
Komentar negatif mulai berdatangan.
“Bimo sombong!”
“Bimo tidak tahu sopan santun!”
“Jangan ikuti Bimo!”
Bimo membaca semua komentar itu.
Hatinya sakit.
Untuk pertama kalinya, jumlah tanda sukanya turun.
Dari seribu menjadi delapan ratus.
Kemudian enam ratus.
Bimo panik.
“Aku harus membuat sesuatu yang lebih hebat!”
Ia mencoba berbagai macam cara.
Ia melakukan aksi berbahaya.
Ia terbang sangat dekat dengan air terjun.
Ia mencoba mengambil buah dari pohon yang sangat tinggi.
Ia bahkan menantang burung elang untuk lomba terbang.
Semua itu dilakukan hanya agar jumlah like kembali bertambah.
Suatu pagi, Bimo melihat sebuah pohon besar yang tumbuh di tepi jurang.
Di ujung salah satu dahannya terdapat buah merah yang sangat menarik.









