Di tepi danau yang tenang, hidup seekor burung pipit kecil bernama Pita bersama ibunya. Mereka tinggal di sarang yang dibuat dari ranting dan daun kering di atas pohon besar. Setiap pagi, ibu pipit mengajarkan Pita cara terbang, mencari makanan, dan mengenali tanda-tanda cuaca.
Suatu pagi, langit tampak kelabu dan angin mulai berhembus pelan. Ibu pipit memperhatikan tanda-tanda itu lalu berkata,
“Pita, hari ini jangan terbang terlalu tinggi. Langit sedang tidak bersahabat. Angin bisa datang lebih kencang dan berbahaya bagimu.”
Namun Pita, yang mulai merasa dirinya sudah cukup pandai terbang, berkata,
“Aku hanya ingin terbang sedikit lebih tinggi, Bu. Aku sudah kuat. Aku juga ingin melihat pemandangan dari atas awan.”
Ibu pipit menggeleng lembut.
“Anakku, bukan karena Ibu tidak percaya padamu. Tapi dunia di luar sana tidak selalu ramah. Dengarkanlah Ibu, ya?”
Pita tampak menurut, tapi dalam hati ia tetap ingin mencoba. Ketika ibunya pergi mencari biji-bijian, Pita pun mengepakkan sayap dan terbang tinggi menembus awan.
Awalnya, Pita merasa sangat senang. Dari atas sana, danau terlihat seperti cermin besar, dan pohon-pohon tampak seperti titik-titik hijau. Tapi tak lama kemudian, awan menjadi gelap dan angin bertiup lebih keras. Sayap kecil Pita bergetar, ia berusaha menstabilkan tubuhnya, tapi angin terlalu kuat.
“Ibu… tolong…!” jeritnya, tapi suaranya tertelan oleh suara angin. Tubuhnya terbawa pusaran udara, terombang-ambing, hingga akhirnya ia terjatuh ke semak berduri di bawah.
Pita terluka. Sayap kirinya lecet dan bulunya acak-acakan. Ia merintih pelan dan berusaha kembali ke sarang dengan langkah tertatih.
Ibu pipit yang pulang ke sarang terkejut melihat Pita tak ada. Ia mencarinya dengan cemas dan akhirnya menemukan Pita di balik semak, gemetar dan menahan sakit.
Tanpa berkata apa-apa, ibu pipit memeluk Pita erat. Ia membersihkan bulu anaknya dan menyuapinya makanan yang dibawa.
“Ibu… aku minta maaf. Aku seharusnya mendengarkan Ibu,” kata Pita dengan air mata.
Ibu pipit tersenyum lembut,
“Tak apa, Nak. Dari pengalaman, kita belajar. Tapi ingatlah, Ibu menasihatimu bukan untuk membatasi, tapi untuk melindungi.”
Sejak hari itu, Pita selalu mendengarkan ibunya. Ia belajar bahwa kasih sayang orang tua adalah pelindung terbaik yang bisa dimiliki seekor anak burung.







