Setiap pagi, Bimo terbang ke berbagai sudut hutan.
Ia membuat video dirinya bernyanyi.
Ia menirukan suara harimau.
Ia menirukan suara gajah.
Ia bahkan membuat suara lucu untuk menghibur penghuni hutan.
“Lihat aku! Jangan lupa kasih like!” teriak Bimo setiap selesai melakukan sesuatu.
Awalnya, banyak hewan yang menyukai videonya.
Kelinci memberikan tanda suka.
Monyet membagikan videonya.
Rusa meninggalkan komentar.
Bahkan burung hantu yang biasanya pendiam ikut menonton.
Jumlah tanda suka Bimo terus bertambah.
Seratus.
Dua ratus.
Lima ratus.
Hingga suatu hari, jumlahnya mencapai seribu.
“Seribu like!” teriak Bimo kegirangan.
Ia terbang berputar-putar di atas hutan.
“Aku berhasil! Aku berhasil!”
Berita tentang Bimo pun sampai ke Kerajaan Hutan.
Raja Singa mengundangnya ke istana.
“Bimo,” kata Raja Singa, “aku mendengar bahwa kamu telah mendapatkan seribu like.”
“Benar, Yang Mulia,” jawab Bimo dengan bangga.
“Mulai hari ini, kamu boleh disebut sebagai Burung Terpopuler di Kerajaan Hutan.”
Bimo merasa sangat bahagia.
Ia mendapatkan sebuah mahkota kecil yang terbuat dari daun emas.
Semua hewan bertepuk tangan.
“Bimo! Bimo! Bimo!”
Sejak saat itu, Bimo semakin terkenal.
Ke mana pun ia pergi, banyak hewan ingin berfoto dengannya.
Ia menjadi bintang di Kerajaan Hutan.
Namun, popularitas ternyata membawa masalah.
Bimo mulai merasa bahwa dirinya harus selalu terlihat sempurna.
Ketika bangun tidur, hal pertama yang dilakukannya adalah memeriksa jumlah like.
Saat makan, ia memeriksa komentar.
Saat terbang, ia memikirkan video berikutnya.
Bahkan ketika sedang berkumpul bersama keluarganya, pikirannya tetap tertuju pada media sosial.









