Bungo  

Kabut Asap Menebal di Bungo, BPBD Sebut Ada Asap dari Daerah Tetangga

Kabut asap masih menyelimuti wilayah kabupaten Bungo, Jumat (11/9/2026). Foto : Sari

SIDAKPOST.ID, BUNGO – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Bungo, Jambi. Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bungo, Zainadi, mengatakan jumlah titik panas atau hotspot di wilayah Bungo sepanjang Januari hingga 10 September 2026 tercatat 276 titik. Luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 24 hektare.

Menurut Zainadi, kondisi karhutla di Bungo relatif terkendali jika dibandingkan dengan sejumlah kabupaten tetangga. Namun, kabut asap yang dirasakan warga diduga turut dipengaruhi asap dari wilayah lain.

Baca Juga :  Air Mengering Saat Kemarau, Sumur Bor TMMD Jadi Penyelamat Warga

“Untuk Kabupaten Bungo, pada September tercatat 63 titik hotspot. Kabut asap yang semakin tebal diduga karena ada asap dari kabupaten tetangga yang jumlah titik hotspot-nya lebih banyak,” kata Zainadi, Jumat (11/9/2026).

Berdasarkan data yang disebut Zainadi berasal dari BMKG Provinsi Jambi, Bungo berada di peringkat kedelapan dalam kejadian kebakaran hutan dan lahan.

Angka itu lebih rendah dibandingkan sejumlah daerah di sekitar Bungo. Kabupaten Tebo, misalnya, tercatat memiliki 1.166 titik hotspot, Merangin 499 titik, sedangkan Sarolangun mencapai 1.634 titik.

Baca Juga :  Ribuan Peserta Ikuti Tes CPNS Bungo di Hari Pertama

“Meski titik hotspot di Bungo relatif sedikit, kabut asap tetap terasa semakin tebal. Salah satunya diduga karena adanya asap dari wilayah kabupaten tetangga,” ujar Zainadi.

BPBD Bungo mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, termasuk membuang puntung rokok sembarangan dan jangan membuka lahan dengan cara dibakar.

Zainadi mengatakan pencegahan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas. Peran masyarakat diperlukan untuk mencegah api meluas, terutama saat kondisi kemarau dan lahan dalam keadaan kering.