Opini  

Tekanan Fiskal dan Masa Depan Transformasi Ekonomi Sungai Penuh–Kerinci

Yulfi Alfikri Noer S.IP., M. AP Akademisi UIN STS Jambi. Foto : sidakpost.id/ist

Yulfi Alfikri Noer, S.IP., M.AP
Akademisi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Pembangunan daerah tidak lagi dapat dimaknai sekadar sebagai upaya meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi. Sebab pertumbuhan yang tinggi belum tentu identik dengan kesejahteraan yang merata, belum tentu memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat, dan belum tentu mampu menghasilkan transformasi pembangunan yang berkelanjutan.

Karena itu, agenda pembangunan modern menuntut sesuatu yang lebih mendasar: pertumbuhan berkualitas. Pertumbuhan yang tidak hanya bergerak dalam statistik, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat produktivitas ekonomi, menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, serta memperkuat daya tahan fiskal daerah.

Baca Juga :  Paradigma Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia

Dalam konteks Sungai Penuh dan Kerinci, agenda tersebut menjadi semakin penting di tengah tekanan fiskal nasional dan kecenderungan pengetatan anggaran pemerintah pusat yang berdampak langsung terhadap kapasitas pembangunan daerah. Karena itu, tantangan utama pembangunan kawasan hari ini bukan sekadar menjaga pertumbuhan tetap bergerak, melainkan memastikan transformasi ekonomi tetap berlangsung di tengah ruang fiskal yang semakin terbatas.

Baca Juga :  Opini : Penolakan Cagub Narkoboy, Ironi Bagi Jambi yang Berjuang Melawan Narkoba di Tengah Komitmen Nasional

Sungai Penuh dan Agenda Pertumbuhan Berkualitas

Sebagai pusat jasa, perdagangan, pendidikan, dan distribusi ekonomi kawasan, Sungai Penuh memegang posisi strategis dalam struktur ekonomi wilayah Kerinci. Posisi tersebut membuat pembangunan Sungai Penuh tidak dapat hanya bertumpu pada ekspansi fisik perkotaan semata. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kota ini mampu berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi regional, simpul perdagangan modern, pusat pengembangan sumber daya manusia, sekaligus motor transformasi ekonomi kawasan.