Namun tantangan pembangunan daerah hari ini bukan sekadar meningkatkan angka IPM, melainkan bagaimana membangun SDM yang adaptif terhadap perubahan ekonomi modern: digitalisasi, transformasi sektor jasa, ekonomi kreatif, dan persaingan pasar yang semakin terbuka.
Pada saat yang sama, reformasi tata kelola pemerintahan juga menjadi kebutuhan mendesak. Akselerasi pertumbuhan tidak mungkin berjalan apabila birokrasi masih lamban, tidak efisien, tidak berbasis data, serta lebih banyak terserap pada aktivitas administratif dibanding pelayanan publik produktif. Karena itu, digitalisasi pelayanan publik, integrasi data pembangunan, serta efisiensi belanja birokrasi menjadi bagian penting dari agenda pertumbuhan berkualitas.
Infrastruktur Produktif dan Konektivitas Kawasan
Pembangunan infrastruktur juga harus dipahami secara lebih strategis. Esensi utama infrastruktur bukan sekadar proyek fisik, tetapi menciptakan efisiensi ekonomi dan memperluas produktivitas masyarakat.
Karena itu, pembangunan Sungai Penuh dan Kerinci membutuhkan konektivitas antarwilayah, akses desa produksi, infrastruktur logistik, internet desa, irigasi pertanian, dan fasilitas pendukung pariwisata. Tanpa konektivitas yang kuat, biaya logistik akan tetap tinggi dan produk lokal sulit bersaing di pasar yang lebih luas.
Hal yang sama berlaku pada sektor pariwisata. Potensi alam Kerinci memiliki kekuatan ekonomi yang besar, tetapi tanpa aksesibilitas, fasilitas dasar, promosi, dan ekosistem wisata yang memadai, maka potensi tersebut tidak akan menghasilkan dampak ekonomi yang optimal. Karena itu, pembangunan infrastruktur produktif harus dipahami sebagai investasi ekonomi jangka panjang, bukan sekadar pembangunan simbolik tahunan.
Kerinci dan Kerentanan Struktur Ekonomi Primer
Dalam konteks pembangunan kawasan, LKPj Pemerintah Kabupaten Kerinci Tahun Anggaran 2025 memperlihatkan bahwa daerah tetap bergerak di tengah tekanan fiskal nasional dan penyesuaian transfer pusat.





