Opini  

Tekanan Fiskal dan Masa Depan Transformasi Ekonomi Sungai Penuh–Kerinci

Yulfi Alfikri Noer S.IP., M. AP Akademisi UIN STS Jambi. Foto : sidakpost.id/ist

Kabupaten Kerinci masih mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil pada kisaran 4,5 hingga 5 persen dengan nilai PDRB yang diperkirakan mencapai Rp15,4–Rp15,7 triliun sepanjang 2025. Namun di balik stabilitas tersebut terdapat persoalan struktural yang jauh lebih mendasar: ekonomi Kerinci masih sangat bergantung pada sektor pertanian primer.

Kontribusi sektor pertanian terhadap struktur ekonomi daerah masih berada di atas 45 persen. Di satu sisi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertanian masih menjadi penyangga utama ekonomi masyarakat. Tetapi di sisi lain, situasi tersebut sekaligus memperlihatkan kerentanan struktural ekonomi daerah yang masih bertumpu pada komoditas primer berbasis bahan mentah. Akibatnya, ekonomi daerah sangat sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas, perubahan cuaca, gangguan distribusi, serta lemahnya nilai tambah hasil produksi lokal.

Padahal Kerinci memiliki berbagai komoditas unggulan seperti kopi, kayu manis, teh, kentang, hortikultura, dan berbagai hasil pertanian lainnya. Apabila seluruh komoditas tersebut hanya dijual dalam bentuk mentah, maka keuntungan ekonomi terbesar justru akan dinikmati di luar daerah. Dalam konteks itulah hilirisasi menjadi agenda strategis pembangunan kawasan.

Baca Juga :  Insan Hukum Berikan Edukasi Benar Kepada Publik, Tunggu Inkracht Van Gewijsde
Baca Juga :  PSU Pilkada Bungo: Jujur, Sportif, Menang Bermartabat!

Hilirisasi dan Masa Depan Ekonomi Kawasan

Hilirisasi bukan sekadar jargon industrialisasi daerah. Hilirisasi merupakan upaya mempertahankan rantai nilai ekonomi agar tidak seluruhnya keluar dari wilayah produksi. Karena itu, pembangunan kawasan Sungai Penuh dan Kerinci harus diarahkan pada penguatan industri pengolahan lokal, pengemasan produk, branding komoditas, sertifikasi mutu, dan perluasan akses pasar nasional maupun ekspor.