Opini  

Pertumbuhan Ekonomi Jambi dan Paradoks Awal Tahun

Pakar Ekonomi Jambi Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S. Foto: Diskominfo Provinsi Jambi

Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.MS.
(Pakar Ekonomi Jambi | Guru Besar Ekonomi Universitas Jambi)

Pertumbuhan Positif di Tengah Perlambatan Ekonomi

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi pada 4 Mei 2026 merilis bahwa pertumbuhan ekonomi Jambi pada Triwulan I 2026 mencapai 4,33 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Angka tersebut memang masih menunjukkan bahwa ekonomi daerah berada dalam zona pertumbuhan positif di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung. Namun, jika dibandingkan dengan Triwulan IV 2025 yang tumbuh sekitar 4,77 persen, terlihat jelas bahwa momentum pertumbuhan mulai mengalami perlambatan. Bahkan secara kuartalan (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Jambi mengalami kontraksi sebesar 4,55 persen dibanding akhir tahun 2025. Di sinilah letak paradoks ekonomi Jambi saat ini, yaitu tumbuh secara statistik tetapi melambat dalam kenyataan ekonomi sehari-hari.

Jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional, posisi Jambi juga menunjukkan tantangan tersendiri dalam struktur pembangunan daerah. Pada Triwulan I 2026, ekonomi nasional tumbuh sekitar 4,87 persen, sedikit lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi Jambi. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa daya tahan ekonomi Jambi relatif lebih lemah dibanding rata-rata nasional. Secara nasional, pertumbuhan mulai didorong oleh industri pengolahan, digitalisasi ekonomi, investasi, dan konsumsi rumah tangga yang lebih kuat. Sementara itu, ekonomi Jambi masih bertumpu pada komoditas primer yang sangat bergantung pada dinamika pasar global dan belanja pemerintah daerah.

Baca Juga :  Birokrasi yang Responsif Hanya Saat Dikunjungi Pejabat Pusat
Baca Juga :  Memaknai Puasa Melampaui Lapar Dan Haus

Fenomena perlambatan ekonomi pada awal tahun sebenarnya bukan sesuatu yang baru dalam dinamika ekonomi daerah. Hampir setiap tahun, Triwulan I selalu menjadi periode perlambatan setelah tingginya aktivitas ekonomi pada akhir tahun sebelumnya. Pada Triwulan IV, realisasi APBD dan APBN biasanya dipercepat agar serapan anggaran mencapai target maksimal menjelang penutupan tahun fiskal. Selain itu, konsumsi masyarakat meningkat akibat momentum Natal, Tahun Baru, serta aktivitas perdagangan yang mencapai puncaknya pada akhir tahun. Ketika memasuki awal tahun, pola ekonomi berubah karena proyek pemerintah belum berjalan optimal, konsumsi mulai normal kembali, dan dunia usaha masih menunggu arah pasar.