Ketergantungan Komoditas dan Lemahnya Struktur Ekonomi
Namun, persoalannya bukan sekadar perlambatan musiman yang selalu terjadi pada awal tahun. Yang jauh lebih penting adalah mengapa pola tersebut terus berulang dan menunjukkan ketergantungan ekonomi daerah terhadap faktor-faktor yang sifatnya jangka pendek. Ekonomi yang sehat seharusnya memiliki fondasi produksi dan investasi yang mampu menjaga stabilitas pertumbuhan sepanjang tahun. Jika setiap awal tahun ekonomi langsung melemah karena belanja pemerintah turun, maka hal itu menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat belum cukup mandiri. Artinya, pertumbuhan ekonomi Jambi masih sangat dipengaruhi pengeluaran negara dibanding kekuatan sektor produktif masyarakat dan dunia usaha.
Salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah struktur ekonomi Jambi yang masih sangat bergantung pada komoditas primer. Batu bara, kelapa sawit, karet, dan hasil perkebunan lainnya masih menjadi penopang utama aktivitas ekonomi daerah. Ketika harga komoditas dunia meningkat, pertumbuhan ekonomi daerah ikut terdorong secara cepat dan signifikan. Namun, ketika harga melemah atau permintaan global terganggu, ekonomi daerah langsung mengalami tekanan yang cukup besar. Struktur ekonomi seperti ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi Jambi menjadi sangat sensitif terhadap faktor eksternal yang sulit dikendalikan pemerintah daerah.
Dalam beberapa bulan terakhir, harga batu bara dunia sebenarnya masih berada dalam tren yang relatif baik akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik internasional. Konflik Timur Tengah, perang Rusia–Ukraina, dan ketegangan perdagangan global mendorong kenaikan harga energi dunia, termasuk batu bara. Secara teori, kondisi tersebut seharusnya memberikan keuntungan besar bagi daerah penghasil batu bara seperti Jambi. Aktivitas ekspor meningkat, penerimaan perusahaan tambang naik, dan perputaran ekonomi sektor transportasi serta perdagangan ikut bergerak. Namun, kenyataannya kenaikan harga batu bara belum cukup mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Jambi pada awal tahun 2026.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Jambi tidak cukup hanya bergantung pada satu sektor unggulan. Ketika sektor pertambangan mengalami peningkatan, beberapa sektor lain justru mengalami pelemahan yang cukup tajam. Data BPS memperlihatkan bahwa sektor konstruksi mengalami kontraksi signifikan pada Triwulan I 2026 seiring melambatnya proyek pembangunan pemerintah. Sektor jasa pendidikan dan jasa lainnya juga mengalami penurunan akibat berkurangnya aktivitas ekonomi setelah akhir tahun. Bahkan konsumsi pemerintah turun lebih dari 30 persen secara kuartalan, padahal selama ini belanja pemerintah masih menjadi motor penting penggerak ekonomi daerah.





