Setiap Jumat, masjid itu selalu penuh.
Bukan hanya karena suara azan yang menggema hingga ke ujung kampung, tetapi juga karena banyak orang ingin mendengar ceramah Ustadz Rahman.
Usianya belum terlalu tua. Wajahnya teduh, suaranya tenang, dan kata-katanya sering membuat jamaah terdiam.
Ia pandai menjelaskan tentang sabar.
Tentang ikhlas.
Tentang dosa.
Tentang bagaimana seorang manusia harus selalu mengingat Allah, bahkan ketika hidup sedang berada di titik paling sulit.
“Jangan terlalu mencintai dunia,” katanya suatu Jumat.
“Karena dunia hanya tempat singgah. Yang harus kita persiapkan adalah perjalanan pulang kepada Allah.”
Jamaah mengangguk.
Sebagian bahkan menitikkan air mata.
Tak seorang pun tahu bahwa setelah turun dari mimbar, Ustadz Rahman sering duduk sendirian di dalam mobilnya selama beberapa menit.
Menatap kosong ke depan.
Dan bertanya kepada dirinya sendiri:
“Kalau aku tahu jalan pulang kepada Allah, mengapa aku sendiri merasa begitu jauh?”
Ustadz Rahman memang dikenal sebagai orang baik.
Ia mengajar anak-anak mengaji.
Ia sering diminta menjadi imam.
Ia membantu warga yang kesulitan.
Jika ada orang bertengkar, ia yang didatangi untuk mendamaikan.
Jika ada seseorang kehilangan arah, ia yang dimintai nasihat.
Namun ada satu hal yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Rumah tangganya sedang retak.
Sudah hampir dua tahun ia dan istrinya, Aisyah, hidup dalam satu rumah tetapi seperti dua orang asing.
Mereka jarang berbicara.
Bukan karena tidak ada masalah.
Justru terlalu banyak masalah yang tidak pernah selesai dibicarakan.
Ustadz Rahman semakin sibuk dengan dakwah.
Undangan ceramah datang dari berbagai tempat.
Pengajian bertambah.
Namanya mulai dikenal.
Sementara Aisyah semakin sering makan sendirian.
Anak mereka, Farhan, tumbuh tanpa banyak berbicara dengan ayahnya.
Suatu malam, setelah Ustadz Rahman pulang dari mengisi kajian, ia melihat Farhan duduk di ruang tamu.
Anak itu berusia sebelas tahun.
“Belum tidur?” tanya Rahman.
Farhan menggeleng.
“Ayah…”
“Iya?”
“Kenapa Ayah selalu mengajarkan orang lain supaya dekat dengan keluarga, tapi Ayah sendiri jarang ada di rumah?”
Pertanyaan itu sederhana.
Tetapi terasa seperti pukulan.
Rahman terdiam.
“Siapa yang bilang begitu?”
Farhan menunduk.
“Tidak ada. Farhan melihat sendiri.”
Rahman ingin menjawab.
Namun tidak ada kata yang keluar.
Malam itu, untuk pertama kalinya ia merasa bahwa ceramahnya sendiri sedang menghakiminya.









