Cerpen  

Ia Menunjukkan Jalan kepada Semua Orang, Tapi Tak Tahu Jalan Pulang

Ustadz Rahman berjalan bersama putranya menuju masjid, menggambarkan perjalanan menemukan kembali makna jalan pulang. Foto: Madi

Malam itu kajian berlangsung seperti biasa.

Rahman berdiri di depan jamaah.

Ia membuka ceramah dengan salam.

Lalu berbicara tentang manusia yang sering merasa dirinya sudah berada di jalan yang benar.

“Kita sering menunjukkan jalan kepada orang lain,” katanya.

“Kita menasihati orang lain agar sabar.”

“Kita mengingatkan orang lain agar menjaga keluarga.”

“Kita meminta orang lain menjauhi kesombongan.”

“Kita mengajarkan orang lain untuk ikhlas.”

Ia berhenti.

Jamaah menatapnya.

Kemudian suaranya mulai bergetar.

“Tapi terkadang kita lupa bertanya kepada diri sendiri…”

Rahman menundukkan kepala.

“Apakah kita sudah melakukan semua yang kita nasihatkan?”

Masjid mendadak sunyi.

Baca Juga :  Yang Kau Rendahkan, Bisa Jadi Lebih Mulia

“Aku takut,” lanjutnya, “jangan-jangan selama ini kita sibuk menunjukkan jalan kepada semua orang, sementara kita sendiri tidak tahu jalan pulang.”

Air mata mulai mengalir di wajahnya.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Ustadz Rahman tidak menyampaikan ceramah sebagai seseorang yang merasa lebih tahu.

Ia berbicara sebagai seorang manusia yang sedang mengakui bahwa dirinya juga tersesat.


Sepulang dari kajian, Rahman tidak langsung tidur.

Ia masuk ke kamar.

Aisyah masih terjaga.

“Mas,” panggil Aisyah pelan.

Rahman duduk di tepi tempat tidur.

“Maaf.”

Aisyah menatapnya.

“Untuk apa?”

“Untuk banyak hal.”

Rahman menarik napas panjang.

Baca Juga :  Ambar dan Cahaya Kecil dari Dusun Legok

“Aku terlalu sibuk mengajarkan orang lain tentang keluarga, sementara keluargaku sendiri aku abaikan.”

Aisyah diam.

“Aku terlalu sibuk mencari penghormatan dari orang lain sampai lupa bahwa orang-orang yang paling membutuhkan waktuku justru ada di rumah.”

Air mata Aisyah jatuh.

Bukan karena semua masalah tiba-tiba selesai.

Tetapi karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suaminya benar-benar berbicara dari hati.

Malam itu mereka tidak menyelesaikan seluruh persoalan.

Namun mereka mulai berbicara.

Dan terkadang, jalan pulang memang tidak dimulai dengan langkah besar.

Ia dimulai dengan keberanian untuk mengakui bahwa kita telah tersesat.