Beberapa hari kemudian, Rahman mendapat undangan untuk mengisi kajian di sebuah desa yang cukup jauh.
Tema yang diminta panitia adalah:
“Menemukan Jalan Pulang.”
Rahman tersenyum ketika membaca tema itu.
Namun entah mengapa, ada perasaan aneh di dadanya.
Ia berangkat selepas Magrib.
Hujan turun cukup deras.
Jalan yang ia lewati semakin sepi.
Karena terburu-buru, ia mengambil jalan pintas yang belum pernah dilewatinya.
Beberapa kilometer kemudian, ia sadar bahwa dirinya tersesat.
Ia mencoba membuka peta di ponsel.
Tidak ada sinyal.
Mobilnya terus berjalan di tengah jalan kecil yang diapit pepohonan.
Akhirnya ia melihat sebuah rumah sederhana dengan lampu redup.
Rahman menghentikan mobil.
Ia mengetuk pintu.
Seorang lelaki tua keluar.
“Maaf, Pak. Saya tersesat. Apakah Bapak tahu jalan menuju Desa Sukamaju?”
Lelaki tua itu menatapnya.
Kemudian tersenyum.
“Kalau jalan menuju desa, saya tahu.”
Rahman menghela napas lega.
“Tolong tunjukkan, Pak.”
Lelaki tua itu menunjuk sebuah jalan di sebelah kanan.
“Lewat sana. Nanti ada persimpangan. Ambil jalan kiri.”
Rahman mengucapkan terima kasih.
Namun sebelum ia pergi, lelaki tua itu berkata,
“Ustadz…”
Rahman berhenti.
“Bapak mengenal saya?”
Lelaki tua itu tersenyum.
“Saya sering mendengar ceramah Ustadz di masjid desa.”
Rahman mengangguk.
“Kalau begitu, saya pamit.”
“Ustadz.”
“Iya?”
“Ustadz sedang mencari jalan pulang?”
Rahman mengangguk.
“Ya.”
Lelaki tua itu memandangnya cukup lama.
“Semoga yang Ustadz cari bukan hanya jalan untuk mobil Ustadz.”
Rahman terdiam.
Ia tidak mengerti.
Tetapi kalimat itu terus terngiang di kepalanya sepanjang perjalanan.









