Cerpen  

Ia Menunjukkan Jalan kepada Semua Orang, Tapi Tak Tahu Jalan Pulang

Ustadz Rahman berjalan bersama putranya menuju masjid, menggambarkan perjalanan menemukan kembali makna jalan pulang. Foto: Madi

Beberapa minggu kemudian, Farhan duduk di samping ayahnya di teras rumah.

“Ayah sekarang sering di rumah,” katanya.

Rahman tersenyum.

“Iya.”

“Kenapa?”

Rahman mengusap kepala anaknya.

“Karena Ayah baru sadar…”

“Apa?”

“Rumah bukan tempat Ayah kembali setelah selesai berdakwah.”

Farhan menatapnya.

“Rumah adalah tempat Ayah seharusnya belajar menjadi manusia yang baik.”

Farhan tersenyum.

Malam itu Rahman mengajak Farhan ke masjid.

Mereka berjalan berdua.

Tidak ada jamaah yang memanggilnya ustadz.

Baca Juga :  Ketika Langit Belum Menurunkan Hujan Rezeki

Tidak ada mimbar.

Tidak ada mikrofon.

Tidak ada orang yang memintanya memberi nasihat.

Hanya seorang ayah dan seorang anak yang berjalan menuju masjid.

Rahman tiba-tiba teringat lelaki tua yang pernah menunjukkan jalan kepadanya.

Ia tidak pernah tahu siapa lelaki itu sebenarnya.

Namun satu kalimatnya telah mengubah hidup Rahman:

“Semoga yang Ustadz cari bukan hanya jalan untuk mobil Ustadz.”

Kini Rahman mengerti.

Selama ini ia mengira jalan pulang adalah sesuatu yang harus ia tunjukkan kepada orang lain.

Baca Juga :  Notif di Tengah Malam

Ternyata jalan pulang adalah sesuatu yang juga harus ia tempuh sendiri.

Dan mungkin, manusia memang bisa menghafal banyak jalan menuju kebaikan.

Tetapi hafal jalan tidak selalu berarti sudah sampai.

Sebab ada orang yang setiap hari menunjukkan jalan kepada orang lain…

namun diam-diam masih mencari jalan pulang untuk dirinya sendiri.

Editor: Madi