Oleh karena itu, institusi yang sehat memiliki mekanisme checks and balances. Ada pembagian tugas, audit, pengawasan internal, pengawasan eksternal, keterbukaan informasi, mekanisme keberatan, dan ruang bagi masyarakat untuk melakukan kontrol. Institusi yang kuat juga membuat pemerintah lebih tahan menghadapi krisis.
Pemimpin yang hebat bukan hanya pemimpin yang mampu menyelesaikan banyak masalah sendiri. Pemimpin yang jauh lebih berarti bagi organisasi adalah orang yang mampu membuat organisasinya tetap dapat menyelesaikan masalah ketika dirinya sudah tidak berada di sana. Ia membangun prosedur, bukan hanya memberikan perintah. Mengembangkan pegawai, bukan membuat seluruh pegawai bergantung kepadanya. Memperbaiki sistem data, bukan menyimpan informasi sendiri. Membuka ruang bagi kritik, bukan memastikan semua keputusan harus berasal dari dirinya.
Ada perbedaan besar antara pemimpin yang membuat organisasi terlihat hebat karena kehadirannya dengan pemimpin yang membuat organisasi benar-benar menjadi lebih kuat.
Institusi yang kuat juga bukan berarti birokrasi harus menjadi kaku. Ada anggapan bahwa semakin banyak aturan dan prosedur, semakin kuat pula institusinya. Institusi yang terlalu kaku justru dapat menjadi tidak efektif. Aturan yang berlebihan dapat membuat pegawai hanya takut melakukan kesalahan tanpa berani berinovasi. Kekuatan institusi tidak terletak pada banyaknya aturan, melainkan pada kemampuan organisasi menghasilkan keputusan yang profesional, transparan, adaptif, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Masyarakat sebenarnya dapat merasakan perbedaannya dalam kehidupan sehari-hari. Institusi yang kuat membuat masyarakat tidak terlalu khawatir ketika terjadi pergantian pejabat. Jika setiap pergantian pimpinan selalu diikuti perubahan total program, penggantian orang secara besar-besaran, hilangnya inovasi terdahulu, dan perubahan prosedur pelayanan, hal tersebut menunjukkan bahwa pelembagaan masih perlu diperkuat.









