Opini  

Mengapa Institusi yang Kuat Lebih Penting daripada Pemimpin yang Hebat?

Riska Wirawan, S.Sos, M.Si  Dosen Prodi Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta. Foto: Sari

Dalam perspektif administrasi negara, pergantian pemimpin seharusnya bukan menjadi saat ketika pemerintahan memulai semuanya kembali. Pergantian seharusnya menjadi peralihan kepemimpinan dalam sistem yang tetap mempunyai kesinambungan. Inilah mengapa membangun institusi biasanya lebih sulit daripada membangun citra kepemimpinan. Institusi tidak selalu menghasilkan sesuatu yang menarik untuk dipublikasikan.  Tetapi justru pekerjaan-pekerjaan seperti itulah yang menentukan apakah sebuah pemerintahan dapat bertahan secara profesional dalam jangka panjang.

Baca Juga :  Akuntabilitas Korporasi dan Pengawasan Otoritas: Urgensi Pelaporan Dugaan Hilangnya Dana Nasabah Bank 9 Jambi kepada OJK sebagai Instrumen Evaluasi Kepemimpinan

Kepercayaan masyarakat juga pada akhirnya tidak hanya dibentuk oleh siapa yang memimpin.  Masyarakat mungkin mengagumi seorang pemimpin. Tetapi untuk kehidupan sehari-hari, yang lebih mereka butuhkan adalah institusi yang dapat dipercaya. Mereka membutuhkan sekolah negeri yang tetap berjalan baik setelah kepala sekolah berganti, puskesmas yang tetap memberikan pelayanan ketika kepala puskesmas berganti, kantor pemerintahan yang tetap responsif setelah kepala dinas berganti, serta sistem pengaduan yang tetap berfungsi tanpa harus mengenal pejabat tertentu.

Negara tidak dapat dibangun untuk satu periode kepemimpinan saja. Negara harus bekerja melampaui umur jabatan siapa pun yang sedang memimpinnya. Sebab pemimpin sehebat apa pun pada akhirnya akan meninggalkan jabatan. Institusi yang kuatlah yang memastikan pelayanan publik, profesionalisme birokrasi, dan kepentingan masyarakat tetap berjalan setelah pemimpin tersebut pergi.