Opini  

Mengapa Institusi yang Kuat Lebih Penting daripada Pemimpin yang Hebat?

Riska Wirawan, S.Sos, M.Si  Dosen Prodi Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta. Foto: Sari

Sebuah dinas kependudukan misalnya, seharusnya tetap mampu melayani pembuatan dokumen dengan standar yang sama meskipun kepala dinas sedang tidak berada di kantor. Sebuah rumah sakit pemerintah seharusnya mempunyai prosedur pelayanan yang tetap berjalan ketika direkturnya berganti. Demikian pula proses perizinan seharusnya tidak menjadi lebih mudah atau lebih sulit hanya karena pemohon mengenal pejabat tertentu.

Jika semuanya bergantung pada keputusan pribadi pemimpin, yang terbentuk sebenarnya bukan institusi yang kuat, tetapi ketergantungan kepada figur.

Model seperti itu mungkin terlihat efektif ketika pemimpin yang tepat sedang menjabat. Seorang pemimpin yang energik dapat menyelesaikan banyak persoalan secara langsung. Ia turun ke lapangan, memberikan nomor telepon pribadi kepada masyarakat, bahkan memerintahkan penyelesaian masalah satu per satu. Dalam jangka pendek, cara tersebut dapat menghasilkan perubahan.

Baca Juga :  Jasa Raharja Adakan Pembinaan Operasional di Kanwil Kepulauan Riau

Persoalannya muncul ketika pemimpin tersebut tidak lagi berada di sana.

Jika seluruh inovasi hanya tersimpan dalam pikirannya, seluruh koordinasi bergantung pada hubungan pribadinya, dan seluruh keputusan harus menunggu instruksinya, organisasi akan kesulitan melanjutkan keberhasilan tersebut. Salah satu ukuran keberhasilan kepemimpinan administrasi justru dapat dilihat setelah pemimpinnya pergi. Jika pelayanan tetap baik, prosedur tetap berjalan, pegawai mengetahui tugasnya, dan program dapat diteruskan, berarti kepemimpinan tersebut telah berhasil dilembagakan. Sebaliknya, apabila organisasi langsung kehilangan arah setelah pergantian pimpinan, bisa jadi keberhasilan sebelumnya terlalu bergantung kepada personalitas.