SIDAKPOST.ID, YOGYAKARTA – Persoalan sampah di lingkungan pondok pesantren dinilai membutuhkan penanganan yang lebih serius. Bukan hanya soal kebersihan, pengelolaan sampah juga menyangkut perubahan kebiasaan, kesadaran lingkungan hingga pemanfaatan sampah agar memiliki nilai guna.
Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (RMI PWNU DIY), KH Muhammad Nilzam Yahya, mengatakan persoalan sampah kini menjadi tantangan yang dihadapi sejumlah pesantren.
Hal itu disampaikannya dalam Webinar Pengelolaan Sampah, Kamis (17/9/2026). Pernyataan tersebut dilansir dari pemberitaan NU Online.
“Sebenarnya persoalan sampah itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Ada banyak hal yang terjadi di banyak pondok pesantren, bahwa problem-problem sampah ini semakin hari semakin menjadi persoalan yang tidak mudah dipecahkan,” kata Nilzam.
Ia mencontohkan pengalaman pengelolaan sampah di Pondok Pesantren Krapyak. Menurutnya, upaya tersebut pada awalnya menghadapi berbagai tantangan, tetapi konsistensi dalam penerapannya kemudian mampu membentuk kebiasaan baru di lingkungan pesantren.
Pengelolaan sampah, lanjutnya, bahkan dapat menjadi bagian dari proses membangun karakter dan kepedulian lingkungan para santri.
“Ini bisa kemudian mengubah perilaku-perilaku, khususnya di Pondok Pesantren Krapyak, menjadi sangat sadar sampah,” ujarnya.
Nilzam menekankan, perubahan tersebut tidak cukup hanya dilakukan oleh santri. Pengasuh, musyrif, pembimbing dan seluruh warga pesantren perlu memiliki komitmen yang sama.
Menurut dia, kepedulian terhadap lingkungan juga dapat ditanamkan bersamaan dengan pendidikan keagamaan yang menjadi aktivitas utama pesantren.
“Mengajarkan anak-anak setiap mengaji subuh, siang, sore, malam, ini penting saya sampaikan supaya tidak meninggalkan proses-proses yang itu menjadi dasar dari para santri untuk tetap belajar,” tuturnya.









