Sampah Krapyak Capai 2,5 Ton Sehari
Direktur Krapyak Peduli Sampah, Andika Muhammad Nuur, mengungkapkan persoalan sampah di kawasan Pondok Pesantren Krapyak memiliki skala cukup besar.
Dengan jumlah santri lebih dari 2.000 orang, produksi sampah di lingkungan pesantren tersebut disebut mencapai sekitar 2,5 ton setiap hari.
Sebelum sistem pengelolaan berjalan, kondisi itu membuat biaya jasa pembuangan sampah mencapai sekitar Rp30 juta per bulan.
Andika mengatakan persoalan sampah tidak semata-mata berkaitan dengan keterbatasan tempat pemrosesan akhir (TPA). Tantangan lainnya adalah membangun kesadaran warga pesantren agar mau memilah dan mengolah sampah sejak dari sumbernya.
“Melalui budaya bersih, dari santri, oleh santri, dan untuk santri, pemilahan dapat dilakukan hingga 36 jenis,” ujarnya.
Penerapan sistem tersebut kemudian berdampak terhadap jumlah sampah yang dibuang. Andika menyebut volume sampah yang sebelumnya sekitar dua ton per hari dapat ditekan hingga sekitar 100 kilogram per hari.
Selain mengurangi sampah yang dibuang, pesantren juga tidak lagi harus mengeluarkan biaya jasa angkut sampah seperti sebelumnya.
“Budaya baru pemilahan sampah terbentuk, mengubah citra pondok pesantren yang dulunya kumuh sekarang bersih,” katanya.
Santri Belajar Mengolah Sampah
Pengurus Krapyak Peduli Sampah, Alfa Mubarok, mengatakan keterlibatan santri menjadi bagian penting dalam berbagai inovasi pengelolaan sampah di pesantren.
Sampah organik, misalnya, dimanfaatkan untuk berbagai produk seperti kompos, briket, biogas dan pupuk organik cair yang telah melalui pengujian di laboratorium.
Sementara sampah anorganik diolah menjadi sejumlah produk, di antaranya bensin berbahan plastik, kursi ecobrick, gantungan kunci, mainan, paving block, lukisan hingga hiasan rumah.
Alfa menilai keterampilan tersebut tidak hanya bermanfaat selama santri berada di lingkungan pesantren. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat dibawa pulang dan diterapkan di daerah asal masing-masing setelah mereka menyelesaikan pendidikan.
“Pembuatan semua ini berasal dari santri, karena harapan kami setelah mereka lulus dari Krapyak terus menerapkan ilmu ini di daerahnya nanti,” tuturnya. (sum)









