SIDAKPOST.ID, JAKARTA – Ancaman kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia mulai berdampak pada ketersediaan air bersih. Kondisi tersebut mendapat perhatian Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini yang meminta pemerintah segera memperkuat langkah antisipasi agar persoalan air tidak berkembang menjadi krisis kesehatan.
Dilansir dari dpr.go.id, Yahya menilai keterbatasan air bersih dapat memicu berbagai persoalan kesehatan apabila tidak ditangani sejak awal.
“Berkurangnya akses air bersih dapat berkembang menjadi masalah kesehatan sebelum terlihat sebagai kejadian luar biasa. Ketika air terbatas, kebutuhan minum, kebersihan rumah tangga, sanitasi, pengolahan makanan, dan perawatan kelompok rentan akan terganggu secara bersamaan,” kata Yahya Zaini dalam keterangan persnya, Jumat (18/9/2026).
Peringatan tersebut disampaikan seiring adanya peringatan kekeringan meteorologis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sejumlah wilayah disebut masuk kategori awas, mulai dari Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta hingga Kalimantan Barat.
Menurut Yahya, kondisi itu menunjukkan persoalan kekeringan tidak hanya mengancam kawasan pedesaan maupun daerah pertanian. Sejumlah wilayah perkotaan juga menghadapi ancaman serupa, sementara laporan krisis air bersih terus meluas di berbagai daerah, termasuk Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Kalimantan Utara dan Maluku.
Politisi Partai Golkar tersebut mengingatkan masyarakat juga menghadapi risiko ketika terpaksa menggunakan sumber air alternatif yang kualitasnya tidak terjamin.
“Tetapi juga dari penggunaan sumur yang kualitasnya menurun, sumber air alternatif yang tidak teruji, serta penyimpanan air terlalu lama dalam wadah yang tidak aman,” jelasnya.
Yahya menyebut penggunaan air yang tidak layak serta buruknya sanitasi dapat meningkatkan potensi sejumlah penyakit. Di antaranya dehidrasi, diare, gangguan kulit hingga gangguan ginjal dan penyakit yang berkaitan dengan lingkungan.
Ia meminta pemerintah tidak menunggu munculnya peningkatan kasus penyakit untuk mulai melakukan penanganan.
“Jangan menunggu puskesmas mencatat lonjakan penyakit untuk menyatakan bahwa kekeringan telah berdampak pada kesehatan. Pencegahan harus dimulai ketika akses terhadap air aman mulai berkurang,” tegas Yahya.









