SIDAKPOST.ID, BANJAR – Khazanah keilmuan ulama Banjar yang tersebar di berbagai daerah dinilai perlu segera dihimpun dan didokumentasikan. Inventarisasi, katalogisasi hingga digitalisasi menjadi langkah penting untuk menjaga warisan intelektual tersebut agar tetap lestari dan dapat dipelajari generasi mendatang.
Dilansir dari NU Online, upaya tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Daurah Tahqiq Eksklusif Sesi 1 yang digelar Beit at-Turath al-Islami Kalimantan di Markaz Beit at-Turath al-Islami Kalimantan, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Jumat (11/9/2026).
Filolog dan sejarawan Islam Nusantara, Ginanjar Sya’ban, mengatakan warisan keilmuan ulama Banjar tersimpan dalam berbagai bentuk, mulai dari manuskrip tulisan tangan hingga naskah cetakan lama.
“Turats ilmu Banjar ini ada dalam dua bentuk. Pertama, masih berupa karya-karya dalam naskah kuno tulisan tangan (manuskrip) dan naskah cetakan tua,” kata Ginanjar.
Menurutnya, karya-karya ulama Banjar tidak hanya ditemukan di Kalimantan Selatan. Sejumlah warisan intelektual tersebut juga tersebar di Sumatra, Jawa, Semenanjung Malaysia, Singapura hingga kawasan Timur Tengah.
Kondisi itu menunjukkan luasnya jaringan keilmuan ulama Banjar pada masa lalu. Namun, kekayaan tersebut hingga kini belum seluruhnya terdokumentasi secara sistematis karena masih tersebar di berbagai wilayah.
“Meskipun kaya dan besar, narasi sedemikian agung, turats ini bersifat terserak, tercecer belum tersimpun. Kita diskusikan peta kerja bagaimana merevitalisasi turats dan khazanah intelektual serta warisan keilmuan Ulama Banjar ini,” ujarnya.
Ginanjar menyebut, inventarisasi menjadi langkah awal yang perlu dilakukan untuk mengetahui keberadaan karya-karya ulama Banjar. Setelah terdata, naskah tersebut kemudian dapat dikatalogisasi dan dilanjutkan dengan digitalisasi.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi kerusakan fisik naskah, sekaligus memudahkan masyarakat dan peneliti mengakses warisan intelektual tersebut pada masa mendatang.
“Secara fisik mungkin sekarang bisa kita jumpai tetapi beberapa hal harus kita lakukan pencegahan,” jelasnya.
Ia mencontohkan pengalaman sejumlah negara dalam menyelamatkan manuskrip sebagai bagian dari warisan intelektual. Malaysia, kata Ginanjar, menjadi salah satu negara yang menyimpan manuskrip dari kawasan Balkan setelah turut melakukan upaya penyelamatan ketika terjadi perang di Bosnia.
“Jangka panjangnya adalah orang yang ingin melakukan penelitian dan riset manuskrip Balkan seperti Bosnia dan Harzegowina harusnya datang ke Malaysia karena mereka yang menyimpan,” ungkapnya.
Wakil Sekretaris Jenderal PBNU itu juga menyebut Jepang menyimpan ribuan karya ulama Asia Tenggara yang ditulis dalam bahasa Arab.
Selain penyelamatan manuskrip, Ginanjar mendorong adanya penulisan biografi ulama Banjar secara sistematis. Menurutnya, setidaknya terdapat sejumlah unsur penting yang perlu dicatat, mulai dari nama lengkap, tanggal lahir, sanad keguruan, jaringan murid, karya tertulis, perjalanan hidup, peran sosial dan kebangsaan, keluarga, tanggal wafat, tempat dimakamkan hingga referensi.
Sementara itu, Ketua Prodi Magister Turats Islam Fakultas Islamic Studies UIII Depok, H Muhammad Ilyas Marwal, menegaskan bahwa tradisi keilmuan Islam Nusantara merupakan bagian penting dari perkembangan Islam secara global.
“Kalimantan Selatan mempunyai tradisi keilmuan Islam yang kuat. Turath Nusantara merupakan bagian dari turath Islam global, bukan khazanah kelas dua,” tegasnya. (sum)









