Ustadz Nasrullah Bahas Makna Rezeki dalam Kajian Magnet Rezeki: “Lain Ladang, Lain Ilalang”

Ustadz Nasrullah menyampaikan pesan tentang makna rezeki melalui kajian Magnet Rezeki bertema “Lain Ladang Lain Ilalang”. Foto: Madi

SIDAKPOST.ID, BUNGO — Setiap manusia memiliki perjalanan hidup dan jalan rezeki yang berbeda. Ada yang hidup dalam kelapangan, sementara sebagian lainnya harus melewati berbagai ujian sebelum mencapai keberhasilan.

Perbedaan tersebut menjadi salah satu pembahasan Ustadz Nasrullah dalam kajian Magnet Rezeki Episode 11 bertajuk “Lain Ladang Lain Ilalang.”

Dalam kajian tersebut, Ustadz Nasrullah mengajak umat untuk memahami rezeki secara lebih luas. Menurutnya, banyaknya harta dan kemewahan duniawi tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran bahwa seseorang mendapatkan keistimewaan dari Allah SWT.

Salah satu pertanyaan yang dibahas adalah mengapa ada orang yang tidak menjalankan salat, puasa, zakat, maupun ibadah lainnya, tetapi kehidupannya terlihat berlimpah secara materi. Sementara itu, orang yang mengenal Allah dan berusaha menjalankan ibadah terkadang justru menghadapi berbagai kesulitan.

Ustadz Nasrullah menjelaskan, kondisi tersebut harus dilihat dari perbedaan ilmu, prinsip hidup, serta cara pandang terhadap kehidupan dunia dan akhirat.

“Lain ladang lain ilalang, ya. Nah, Bapak Ibu begini, ada pertanyaan. Kenapa kok orang-orang yang enggak kenal Allah, tapi kok mereka dikasih rezeki sama Allah? Mereka enggak salat, enggak puasa, enggak haji, enggak zakat. Kemudian tidak melakukan amalan-amalan saleh, tidak bersedekah dan seterusnya,” ujar Ustadz Nasrullah dalam kajiannya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa perbedaan tersebut salah satunya disebabkan oleh perbedaan ilmu dan pemahaman mengenai kehidupan.

“Makanya judulnya adalah lain ladang lain ilalang. Lain ilmunya, Bapak Ibu. Lain ilmunya antara kita dengan mereka,” katanya.

Menurut Ustadz Nasrullah, orang yang tidak mengenal Allah dan kehidupan akhirat memiliki cara pandang yang berbeda terhadap kehidupan. Mereka tidak menjadikan persoalan seperti alam kubur, padang mahsyar, hisab, surga dan neraka sebagai bagian dari pertimbangan hidupnya.

Ia menilai, meskipun seseorang tidak beriman, bukan berarti seluruh perbuatannya selalu buruk. Dalam kehidupan sehari-hari, orang tersebut tetap dapat melakukan berbagai kebaikan yang memberikan manfaat bagi orang lain.

Baca Juga :  Perisai Rezeki, Nasrullah Ungkap Dosa Bisa Menjadi Penghalang Rezeki

“Mereka yang tidak kenal Allah, mereka-mereka yang tidak kenal Tuhan, mereka-mereka yang tidak kenal akhirat, mereka yang tidak kenal tentang siksa kubur, mereka yang tidak kenal dengan padang mahsyar, mereka yang tidak kenal dengan alam hisab, mereka yang tidak kenal dengan surga dan neraka,” tuturnya.

Ustadz Nasrullah kemudian memberikan sejumlah contoh kebaikan yang dapat dilakukan manusia, seperti menciptakan berbagai sarana kehidupan, membantu orang lain, menolong orang yang kesulitan, hingga berbuat baik kepada hewan.

“Mereka bikin handphone, mereka bikin mobil, mereka bikin sarana-sarana kehidupan. Mic-mic di masjid itu adalah ciptaan mereka. Menyeberangi seorang nenek yang enggak bisa nyebrang. Kemudian memberi makan anjing, memberi makan kucing, mereka berbuat baik pada hewan. Dan ini adalah perbuatan-perbuatan baik, Bapak Ibu,” jelasnya.

Dari sisi tersebut, ia menekankan bahwa Allah SWT Maha Adil dan setiap kebaikan memiliki balasan.

“Maka Allah itu Maha Adil. Allah Maha Adil, Allah itu memberikan kebaikan dan Allah Maha membalas perbuatan baik, Bapak Ibu,” katanya.

Menurutnya, dalam perspektif yang disampaikan melalui Magnet Rezeki, orang yang belum mengenal Allah dapat memperoleh balasan atas kebaikan yang dilakukannya di dunia.

“Cuma, orang-orang yang belum kenal Allah ini Allah balas perbuatan baiknya di dunia. Supaya di akhirat Allah tidak punya utang lagi kepada mereka,” ujar Ustadz Nasrullah.

Sementara bagi orang beriman, ia menjelaskan bahwa kehidupan tidak hanya diukur dari apa yang diperoleh di dunia. Orang beriman memahami adanya kehidupan akhirat sehingga amal kebaikan dan kesalahan memiliki perhitungan masing-masing.

“Sementara kita, orang-orang yang kenal Allah, orang-orang yang kenal akhirat, orang-orang yang kenal surga dan neraka, orang-orang yang kenal dengan siksa kubur, alam hisab, padang mahsyar, adalah orang-orang yang selalu berbuat baik sepanjang harinya, sepanjang tahunnya, sepanjang bulannya,” lanjutnya.

Ia mengingatkan bahwa manusia tetap memiliki kemungkinan melakukan kesalahan, dosa, maupun kekhilafan meskipun berusaha menjalankan kebaikan.

Baca Juga :  Amalan dan Doa Menjelang Tahun Baru Hijriyah: Awali dengan Berkah

“Tapi pernah enggak, Bapak Ibu, kita berbuat salah? Pernah enggak kita berbuat dosa? Pernahkah kita berbuat khilaf? Pasti pernah, Bapak Ibu. Maka Allah pun Maha Adil. Allah Maha membalas perbuatan salah. Allah Maha membalas perbuatan dosa. Allah Maha membalas perbuatan khilaf. Tapi dibalasnya di mana?” katanya.

Pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dari pesan kajian. Ustadz Nasrullah mengajak jamaah tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran atas keberhasilan maupun keadilan Allah.

Menurutnya, setiap manusia memiliki kondisi, kemampuan, kesempatan dan jalan kehidupan yang berbeda. Karena itu, seseorang tidak seharusnya terus-menerus membandingkan rezekinya dengan milik orang lain.

Rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih bagus, usaha yang lebih maju maupun penghasilan yang lebih tinggi tidak otomatis menunjukkan seseorang lebih mulia di hadapan Allah.

Melalui konsep “Lain Ladang Lain Ilalang”, Ustadz Nasrullah mengajak umat untuk fokus mengolah “ladang” masing-masing. Manusia tetap harus berikhtiar, memperbaiki diri, menjalankan kebaikan, menjaga hubungan dengan Allah SWT dan mensyukuri rezeki yang telah diberikan.

“Lain ilmunya, lain juga prinsip yang mereka miliki,” menjadi salah satu penekanan Ustadz Nasrullah dalam menjelaskan mengapa kondisi kehidupan dan rezeki setiap manusia dapat berbeda.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa rezeki tidak semata-mata berbentuk harta. Rezeki juga dapat berupa kesehatan, keluarga, kesempatan, ilmu, ketenangan, kemampuan berbuat baik serta berbagai nikmat lain yang sering kali tidak terlihat secara materi.

Pada akhirnya, perbedaan kondisi kehidupan tidak semestinya membuat seseorang iri atau mempertanyakan keadilan Allah. Setiap manusia memiliki “ladang” masing-masing untuk diolah dengan usaha, doa dan amal kebaikan.

“Lain ladang, lain ilalang. Jangan melihat rezeki orang lain sebagai ukuran rezeki kita. Karena setiap orang memiliki ladangnya masing-masing dan Allah memberikan sesuai dengan ketentuan-Nya,” demikian pesan Ustadz Nasrullah dalam kajian tersebut.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=LwpE35yrbjc
Editor: Madi