Oleh: Serly Marlina
Mahasiswi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, program studi Ilmu Pemerintahan.
Harga kebutuhan pokok yang yang terus merangkak naik, sementara pendapatan masyarakat bergerak lambat, membuat banyak orang merasa hidup semakin sempit. Fenomena ini bukan sekedar keluhan musiman, melainkan cerminan dari tekanan ekonomi yang dirasakan publik secara nyata, mulai dari pangan, transportasi, biaya pendidikan, hingga kebutuhan digital sehari-hari. Ditengah berbagai isu yang sedang ramai di bicarakan publik, seperti kenaikan biaya hidup, stabilitas ekonomi, dan efektivitas kebijakan pemerintah, persoalan daya beli menjadi salah satu yang paling mendesak untuk dibahas sekarang.
Mengapa isu ini penting sekarang?
Isu harga naik dan daya beli turun sedang relevan karena masyarakat tidak lagi berhadapan dengan satu jenis beban, melainkan tumpukan tekanan. Harga pangan naik, biaya produksi ikut terdorong, dan pada saat yang sama gaji banyak pekerja tidak bertambah secepat kebutuhan hidup. Kondisi ini membuat publik bukan hanya menahan belanja, tetapi juga menyesuaikan ulang gaya hidup, mengurangi konsumsi, dan menunda kebutuhan yang dianggap tidak mendesak. Ketika kondisi seperti ini berlangsung terus, dampaknya tidak berhenti dirumah tangga, tetapi merembet ke UMKM, pasar lokal, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Kalau kita turun langsung kepasar, keluhannya hampir seragam, harga kebutuhan pokok naik lebih cepat daripada penyesuaian pendapatan. Data inflasi Februari 2026 menunjukkan tekanan biaya hidup yang cukup terasa, dengan kenaikan dipicu terutama oleh makanan, minuman, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Bahkan pada Mei 2026, inflasi kembali dipicu oleh komoditas seperti cabai merah dan minyak goreng.







