Opini  

Harga Naik, Daya Beli Turun: Sampai Kapan Publik Harus Tahan?

Serly Marlina, Mahasiswi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, program studi Ilmu Pemerintahan. Foto: Sari

Ditingkat pedagang, dampaknya juga jelas. Ada laporan video yang menggambarkan daya beli warga turun sehingga pedagang mengurangi stok dagangan. Ini menunjukkan masalahnya bukan hanya di sisi konsumen, tetapi merambat ke rantai ekonomi kecil. Saat pembeli berkurang, pedagang ikut menahan barang saat perputaran melambat, ekonomi lokal ikut lesu. Di titik ini, harga bukan sekedar angka, melainkan sinyal bahwa mesin ekonomi dibawah sedang seret. Fakta lapangan seperti ini penting karena menunjukkan bahwa persoalan ekonomi sekarang bukan hanya soal “harga naik”, melainkan soal rantai hidup yang ikut menjerat publik.

Baca Juga :  Kebijakan Sewa Mobil Pemkot Samarinda: Antara Rasionalitas Administratif dan Sensitivitas Publik

Di satu sisi, pemerintah dan elit ekonomi sering berbicara tentang pertumbuhan, stabilitas, dan optimisme. Di sisi lain, masyarakat merasakan langsung harga yang tidak ramah dan pengeluaran yang makin berat. Kesenjangan ini membuat pembahasan soal daya beli bukan hanya urusan angka statistik, tetapi juga soal kepercayaan publik terhadap kebijakan.

Membahas persoalan ini sekarang penting karena publik sudah berada pada batasan kesabaran yang tipis. Isu harga naik dan daya beli turun bukan lagi diskusi elit ekonomi, tetapi percakapan warung, grup keluarga, dan media sosial. Itulah sebabnya isu ini viral karena orang merasakannya langsung bukan karena dibingkai rumit oleh para ahli.

Baca Juga :  Daya Beli Smartphone di Kota Bungo Menurun

Lebih dari itu, ada jarak yang makin terlihat antara narasi resmi dan pengalaman sehari-hari. Di satu sisi, ada optimisme bahwa inflasi terkendali dan daya beli tidak tergerus secara luas. Di sisi lain, sejumlah analisis justru menyebut pelemahan daya beli sebagai pemberat utama ekonomi 2026, terutama pada kelompok kelas menengah ke bawah. Kesenjangan perspektif ini membuat publik bertanya kalau ekonominya baik-baik saja, kenapa hidup terasa makin sempit?