Opini  

Harga Naik, Daya Beli Turun: Sampai Kapan Publik Harus Tahan?

Serly Marlina, Mahasiswi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, program studi Ilmu Pemerintahan. Foto: Sari

Masalah utamanya bukan sekedar harga naik. Masalah yang lebih dalam adalah ketidakseimbangan antara pendapatan, biaya hidup, dan kebijakan yang mengatur keduanya. Saat harga pangan, energi, dan logistik naik, tetapi penghasilan tidak ikut mengejar, masyarakat otomatis menahan konsumsi. Dalam kondisi seperti ini, daya beli bukan cuma soal gaji, melainkan soal daya tahan hidup.

Di sinilah kepemimpinan menjadi sorotan. Kepemimpinan yang baik bukan yang paling banyak berbicara, melainkan yang paling cepat membaca gejala dan paling berani merespons. Saat tanda-tanda pasar melemah, stok menipis, dan harga bergerak liar, pemimpin di tuntut hadir dengan keputusan yang menenangkan keadaan, bukan sekedar memberi imbauan sabar. Rakyat bisa menerima harga naik sekali, tetapi sulit menerima bila kenaikan itu terasa dibiarkan tanpa arah.

Kita bisa melihat bahwa pemimpin yang efektif bukan hanya yang pandai tampil, tetapi yang mampu menjaga keseimbangan antara ketegasan dan empati. Ketika harga pangan naik, biaya hidup melonjak, dan produsen menahan produksi karena pasar tak pasti, dibutuhkan kepemimpinan yang cepat, terukur, dan peka pada dampak sosial.

Baca Juga :  NTP Jambi Maret 2026 Naik 1,11 Persen, Daya Beli Petani Menguat

Di sini, teori kepemimpinan terasa bukan sebagai definisi buku teks, melainkan sebagai kemampuan menggerakkan orang dan kebijakan ke arah yang sama. Pemimpin yang baik membaca tanda-tanda kecil di bawah permukaan, warung sepi, konsumsi menurun, pekerja menunda belanja, dan pelaku usaha menahan produksi. Jika tanda-tanda itu di abaikan, krisis kecil bisa berubah menjadi kebuntuan ekonomi.

Baca Juga :  Sekolah Rakyat: Terobosan Keadilan Sosial atau Eksperimen Berisiko?

Pemerintah harus fokus menstabilkan komoditas yang paling dekat dengan hidup rakyat, terutama pangan dan energi. Kebijakan yang menyentuh beras, cabai, minyak goreng, listrik, dan bahan bakar rumah tangga akan lebih terasa daripada sekedar pernyataan optimis. Jika barang pokok terkendali, tekanan psikologis publik pun bisa turun.