Opini  

Koperasi dan Militer

Nurfadilah, mahasiswi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Program Studi Ilmu Pemerintahan. Foto: Sari
Oleh: Nurfadilah
mahasiswi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Program Studi Ilmu Pemerintahan.

Dua calon manajer Koperasi Desa Merah Putih meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar KemiliteranKomponen Cadangan (LatsarmilKomcad).

Anisa Musyawaroh meninggal akibat heat stroke, sedangkan Yonanda Muhammad Taufik karena cardiac arrest. Peristiwa ini memunculkan pertanyaan mengenai relevansi pendekatan militer dalam meempersiapkan pengelola koperasi desa.

Sejak awal, kebijakan yang mewajibkan 35,476 calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih mengikuti pelatihan selama 45 hari menuai perdebatan.

Baca Juga :  Secercah Harapan Teruntuk Negeriku Jambi Tercinta

Tiga puluh hari diisi pelatihan kedisiplinan ala militer, sedangkan pelatihan manajerial hanya 15 hari. Komposisi tersebut menimbulkan Kesan bahwa aspek kedisiplinan memperoleh porsi lebih besar di banding penguatan kompetensi pengelolaan koperasi.

Dalam persepektif kepemimpinan situasional, pendekatan kepemimpinan harus disesuaikan dengan kebutuhan organisasi. Militer dibangun di atas hierarki dan kepatuhan, sedangkan koperasi bertumpu pada demokrasi anggota, partisipasi, dan semangat gotong royong.

Baca Juga :  Opini : Penolakan Cagub Narkoboy, Ironi Bagi Jambi yang Berjuang Melawan Narkoba di Tengah Komitmen Nasional

Karena itu, pelatihan pengelola koperasi idealnya di rancang sesuai karakter lembaga yang akan mereka Kelola. Pilihan pemerintah melibatkan Kementrian Pertahanan sebagai penyelenggara pelatihan juga memunculkan kritik.

Pengamat militer Jaleswari Pramodhawardhani mempertanyakan mengapa pembinaan Koperasi tidak lebih banyak melibatkan Lembaga sipil yang memiliki kompetisi di bidang manajemen Koperasi.

Kritik tersebut bukan semata mengenai siapa yang melatih, melainkan mengenai nilai dan pendekatan di tanamkan kepada calon pengelola.